Thursday, September 5, 2013

Su Toque



Su Toque
(Sentuhanmu)
Oleh Stella Esperanza


Tap.. Tap.. Tap...
Saat ini, ia berada di luar. Sebelumnya, ia adalah pribadi yang baik. Minggu ini, tak seperti biasanya, di sekitar dirinya ada aura yang berbeda.

Malam ini terasa dingin. Aku duduk di sudut ruangan dan melapisi diriku dalam selimutku yang tipis. Aku ketakutan. Seluruh tubuhku terasa merinding dan bergetar. Andai kakak disini, pikirku.

***

Aku lahir di keluarga yang kurang mampu dan ayahku mabuk-mabukan setelah ibu meninggalkan keluarga ini untuk menikah dengan seorang lelaki kaya. Aku tidak bersekolah dan pekerjaanku sehari-hari adalah mengumpulkan barang-barang bekas atau membuat suatu kreasi dari barang bekas dan menjualnya. Penghasilanku sehari-hari cukup untuk memberiku, kakak perempuanku yang 10 tahun lebih tua dariku, dan ayahku makanan sehari-hari.

Malam itu.. Aku duduk membaca buku di kamarku saat aku mendengar suara tertawa ayah dari luar. Ayah pulang dengan membawa 5 botol bir dan makanan dari restoran. Aku melihat tajam ke arah ayah yang duduk di kursi rumah yang reyot. Sedetik kemudian, aku sadar.

"Yah.. Kakak dimana?" saat itu umurku masih sangat muda, 5 tahun. Aku dan kakak tidak akrab dan selalu bertengkar walaupun karena hal-hal kecil. Tetapi pagi ini, kakak pergi sebelum aku bangun pagi dan begitu pula dengan ayah.

"Kakakmu tadi pergi, mungkin mencari uang. Tunggu saja dia pulang" kata ayah sambil menghitung uang yang jumlahnya tak pernah kulihat.

"darimana ayah mendapatkan uang sebanyak itu?" ujarku saat aku melihat ayah menghitung uang.

"Ayah menang lottere, nak. Besok ayo kita ke tempat buku bekas dan membeli beberapa buku untukmu."

Aku sangat senang karena ayah akan membelikanku buku baru. Esoknya, kamu sungguh pergi ke toko loak buku dan aku membeli beberapa buku matematika dan bahasa. Ayahku berkata bahwa kita akan hidup baik-baik saja.

***

Sudah 1 tahun berlalu sejak saat itu, kakak masih belum kembali ke rumah. Aku tak pernah mengunci pintu rumah sebelum jam 12 malam, menunggu kakak untuk pulang. Ayah selalu marah jika aku menunggu kakak pulang.

"Yah.. Sebenarnya kakak kemana? Sudah lama ia tidak pulang." Ayah hanya diam dan tak menjawab apa-apa. Ia hanya kembali menghitung uang nya yang tak sebanyak tahun lalu.

"Yah.. Sebaiknya ayah jangan membuang-buang uang untuk membeli bir lagi. Bagaimana jika uang ayah habis? Kita akan kembali hidup sulit."

"Tak apa, nak. Walaupun ayah hidup susah, ayah masih mempunyai dirimu" ayah berkata sambil tersenyum kepadaku. Aku senang ayah berkata seperti itu karena itu menandakan ayah akan tetap bersamaku walaupun kami susah.

***

Nostalgia akan masa lama yang terngiang-ngiang di kepalaku. Saat itu juga, seseorang mendobrak masuk ke dalam ruangan ini. Menarik dan menyeret aku keluar dari tempat ini. Aku memberontak dan bertahan untuk tetap berada di tempat itu tetapi, tak berdaya, kekuatanku tak mampu menandingi kekuatan ayahku.

Ia menyeretku keluar dari ruangan itu dan membantingku ke lantai. Ia menyuruh aku memakai baju yang baru ia belikan dan aku melakukan apa yang baru saja ia suruh.

Aku masuk ke dalam kamar mandi dan berganti baju. Baju itu kelihatan bagus dan baru. Terusan bewarna biru dengan rok selutut, jepit rambut bewarna seirama, dan sepatu baru. tanpa tau apa-apa, aku hanya mengikuti apa keinginannya. Aku keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju ayah.

Ayah membawaku ke suatu tempat. Suatu ruangan yang dingin berisi 2 orang laki-laki yang duduk di tengah ruangan. Ayah duduk di depan orang itu dan aku mengikutinya. Mereka berkata hal-hal yang aneh, tak dimengerti olehku yang masih berusia 14 tahun.

Salah satu laki-laki itu memberikan amplop tebal bewarna putih kepada ayah. Ayah langsung membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya, uang. Banyak sekali uang. Hampir sebanyak uang yang waktu itu ayah hitung, saat kakak hilang.

Aku tersadar akan kata-kata ayah waktu itu. Walaupun ayah hidup susah, ayah masih mempunyai dirimu.

Kakak bukan pergi. Ia dijual oleh ayah ke orang asing. Aku ketakutan dan menundukan wajahku. Tiba-tiba, ayah dan kedua orang itu berdiri dan bersalaman, ayah berjalan pergi. Aku mengikuti ayah untuk keluar dari tempat ini. Tetapi ayah mendorong aku dan berkata bahwa aku harus tetap disini.

Aku melihat punggung ayah dengan cepat meninggalkan aku. Ia meninggalkan aku tanpa melihat ke belakang lagi. Teganya dia. Andaikan ibu ada disini, berkali-kali aku berkata begitu pada diriku sendiri tetapi aku tau, hal itu tak mungkin terjadi. Dua orang itu menyeret aku dan melemparku ke satu ruangan kecil yang sangat dingin. Disana terdapat beberapa anak yang senasib dengan diriku. Mereka duduk disana terdiam melihat ke arahku. Salah satu dari mereka mendekati aku.

"Halo, nama aku Enny, aku sudah disini selama 2 tahun. Umurku 8 tahun" ujar anak yang bertubuh kecil berambut keriting ini.

"Aku... Rei... 14" jawabku sambil bergetar ketakutan. Tempat ini sangat kecil dan gelap.

Disana terdapat beberapa anak yang juga di jual oleh orangtuanya. Bahkan, beberapa dari mereka ada yang sama sekai tak ingat orangtua mereka. Aku berkenalan dengan setiap orang dari mereka. Jenny 17 tahun, Mario 12 tahun, Anni 12 tahun, Andi 10 tahun, Enny 8 tahun, dan Mira 4 tahun. Ada yang sudah 4 tahun disini dan ada juga yang baru 2 bulan.

Akhirnya, aku sadar, aku dijual untuk menjadi pengemis. Esoknya, aku diberi baju yang lusuh, bau, dan kotor untuk dipakai. Aku memakai baju itu sambil bersedih, perasaanku benar-benar bercampur aduk. Apakah ayah tau aku diperlakukan seperti ini? Mengapa ia tega?

Setelah itu, kamu menaiki satu mobil panther bewarna hitam. Kami di turunkan satu persatu dan dijaga oleh 1 orang dari mereka. 3 dari kami turun di lampu merah pertama dan dijaga oleh 1 orang. Lalu, 2 lagi turun. Dan akhirnya, aku bersama Enny dijaga oleh 1 orang yang berwajah brewok dan kekar.

"Hari ini, kalian akan disini sampai jam 7 malam. Target kalian 40.000 jangan sampai tidak dapat segitu jika lu pada mau makan ! Ngerti gak?!" Kata lelaki brewok itu sambil menatap wajah kami.
Kami menangguk ketakutan. Kami berdua berjalan di sekitar jalan itu dan mulai mengelap mobil-mobil, menyanyi, dan berharap bahwa para pengemudi akan dengan baik memberikan kami uang setidaknya 100 rupiah. Banyak yang memberi kamu uang, mulai dari 100, 200, 500, sampai 1000 rupiah, tetapi tak sedikit juga yang hanya menunjukan telapak tangannya ke hadapan aku atau Enny.

Tengah hari pun datang. Terik matahari sungguh menyengat dan kami baru mengumpulkan 18.700 rupiah. Kami sungguh takut jika kami tak diberi makan. Kami kembali meminta-minta, menyanyi di kaca-kaca tetapi tak jarang yang tak memberi kami apapun. Akhirnya senja mulai tiba, aku memanggil Enny dari seberang jalan.

Kami duduk diatas batu di seberang jalan jauh dari lelaki brewok yang sedang tidur. Enny baru mengumpulkan 15.200 dan aku baru mengumpulkan 18.100. Belum sampai 40.000 dan waktu kami akan habis. Akhirnya, kami memutuskan untuk menyembungikan 4000 rupiah untuk membeli nasi malam nanti, jika kami bisa mengendap-endap keluar.

Benar saja. Kami tidak berhasil mengumpulkan 40.000 rupiah bahkan setelah kami menghitung ditambah 4000. Maka kami memutuskan menyimpan uang 4000 itu di balik celana dalamku. Setelah penghujung hari tiba, lelaki itu memeriksa kami apakah kami menyembunyikan uang lain. Kami gemetar takut mereka mengetahui bahwa kami mengambil uang itu tetapi mereka tidak mengetahuinya dan kami lega saat mereka menyuruh kami masuk ke dalam mobil.

Malam itu, tak satupun dari kami yang mendapatkan makanan. Mereka menyuruh kami masuk ke kamar dan tidak memberi kami makan. Beberapa saat kemudian, pintu terbuka dan satu laki-laki masuk membawa karung besar.

"Buang semua plastik dari botol-botol ini, jangan sampai ada yang tersisa." Ujarnya keras.
Kami semua mulai bekerja dengan perut kosong. Aku keluar dari pintu dan melihat mereka bermain kartu sambil tertawa. Aku berkata pada mereka bahwa aku ingin pergi ke wc dan mereka mengizinkannya. Mereka bertengkar tentang siapa yang akan mengawasi aku dan akhirnya lelaki brewok yang tadi mengawasi aku.

Ia mengantar aku ke wc umum dekat rumah mereka. Aku berkata bahwa aku akan agak lama karena aku ingin buang air besar. Ia berkata oke dan melanjutkan dengan kalimat "jangan terlalu lama". Aku mengangguk tanda setuju.

Begitu aku masuk ke wc, aku mengintip keluar dan melihat ia berdiri di depan pintu menghadap keluar. Aku mengendap-endap memanjat kloset dan keluar dari wc untuk pergi ke warung yang kulewati saat menuju kesini. Aku berlari sekuat tenaga agar menghemat waktu yang ada.

Sesampainya disana, aku memesan nasi 4000 dan memohon agar nasi itu di pepet di kertas bungkus. Aku juga memohon padanya agar memberikan aku kuah semur dan ibu warung itu memberikan aku satu kantong pelastik. Akhirnya, aku mendapatkan 2 porsi nasi putih dan sekantung kuah semur.

Aku segera bergegas menuju wc tadi. Aku memanjat kembali ke wc itu dan menyembunyikan makanan yang kubeli tadi. Aku menaruh nasi bungkus itu di kantung celanaku dan menyembunyikan kantung kuah di balik rambutku yang panjang. Aku membuka pintu wc dan ternyata lelaki brewok itu sedang tertidur.

Aku membangunkannya dan berkata aku sudah selesai. Ia memukul kepalaku dan berkata bahwa aku lama sekali dan menyuruhku mengikutinya kembali ke rumahnya. Selama perjalanan, aku berdebar-debar ketakutan jika aku sampai ketauan membeli makanan tanpa sepengetahuannya.

Akhirnya, kami sampai ke dalam rumah dan aku kembali ke ruangan kecil itu. Aku segera mengunci pintu kamar itu dan menghampiri Enny dan yang lain. Mereka masih mengerjakan tugas botol itu dan aku menyuruh mereka berhenti sebentar untuk makan sedikit.

Kami membagi 2 bungkus nasi itu untuk bertujuh. Masing-masing kira-kira mendapatkan segenggam nasi dan kami juga membagi kuahnya. Kami makan perlahan dan menikmati makanan tersebut. Mereka berterimakasih kepadaku yang telah mempertaruhkan keselamatanku demi mereka. Malam itu, kami tidur bersama-sama melewati tengah malam yang dingin.

Esoknya, target mereka diturunkan menjadi 35.000, aku dan Enny bersama mencapai target kami dan mendapatkan makan. Tetapi, ada juga yang tidak mendapatkan makan dan kami tidak boleh memberi mereka makan. Saat aku makan, Jenny, Andi, dan Mira tidak mendapatkan makanan. Aku diam-diam menggenggam nasi dalam tanganku dan menyusupkannya ke dalam kantung celanaku. Lalu, saat mereka tak melihatku, aku memasukan tempe dan tahu yang ada di piringku ke dalam kantungku yang lain.

Setelah makan malam, aku mengeluarkan makanan itu dari kantungku. Mereka berterimakasih lagi kepadaku dan aku meminta maaf pada mereka karena makanan itu tak lagi bersih dan sehat. Mereka menangis dan memelukku lalu aku menyuruh mereka makan.

Hari-hari terlewati seperti itu, kadang kami semua makan, kadang tidak. Kadang pula, aku keluar untuk mengendap-endap membeli makanan. Walaupun awalnya kami tak saling kenal, aku dan mereka semakin lama semakin akrab dan saling menyayangi. Kami selalu membagi makanan yang ada dan melindungi satu sama lain jika para lelaki itu memukuli salah satu dari kami.

sudah 1 bulan lamanya aku berada disini. Aku tak tahu berapa lama lagi aku bisa bertahan seperti ini. Rasanya hidup sehari-hari terasa jauh lebih berat daripada dulu.

Hari ini, aku dan Enny bekerja seperti biasa, di perempatan lampu merah. Kami berdua mengamen seperti biasa. Lalu, kaca mobil itu terbuka. Terlihat sosok wanita berusia 20an dan melihat ke arah kami.

"Kak, minta sedekahnya, kami belum makan sejak kemarin" ujarku meminta uang darinya.

Ia manatap kami dan bertanya siapa nama kami dan aku menjawab Rei dan Enny. Ia tersenyum dan memberi kami 2 lembar uang 5000. Aku terkaget melihat lembaran uang itu karena aku tak pernah melihat orang memberi kami uang sebesar itu. Tetapi, aku dan Enny tidak berpikir lebih lanjut dan terus mencari uang.

Hari-haripun terlewati dengan jerih payah. Keringat yang bercucuran setiap harinya tak sebanding dengan rasa sakit yang aku rasakan saat ayah membuangku. Setiap malam, aku selalu teringat punggung ayah yang dengan cepat meninggalkan aku di tempat ini.

Tetapi, sejak saat itu, setidaknya satu minggu sekali aku bertemu dengan wanita 20 tahunan itu. Ia selalu memberi aku dan Enny uang lebih ataupun makanan-makanan kecil. Aku dan Enny senang jika kami melihat mobil terios bewarna silver datang. Kami selalu mendatangi mobil itu mengharapkan bahwa wanita itu lah yang ada di dalam mobil tersebut.

Satu minggu, dua minggu, tiga minggu, satu bulan, dan dua bulanpun berlalu. Aku dan Enny selalu ditempatkan di perempatan yang sama.

Satu saat di bulan Mei, saat aku dan Jenny berulang tahun. Enny, Mario, dan yang lainnya merayakan ulangtahunku. Memang bukan ulangtahun dengan kue dan lilin seperti biasa tetapi hal itu sangat istimewa. Mereka menyanyikan lagu happy birthday sambil tersenyum. Rasanya, membuat kami semakin dekat seperti keluarga.

Hari itu juga, jam 11 malam, tiba-tiba rumah ini di gebrak oleh polisi. 3 lelaki itu di borgol sementara kami ketakutan dan mengintip keluar melalui sela-sela pintu. Seorang polisi membuka pintu dan menggandeng kami keluar dari ruangan itu menuju mobil. Aku dan yang lainnya duduk di mobil polisi sambil bertanya-tanya ada apa ini.

Esoknya, kami ditaruh di suatu rumah dan terpampang "PANTI ASUHAN B-T-N". Kami tau bahwa seseorang menyelamatkan kami dari 3 lelaki itu. Kami tinggal di panti asuhan dengan bahagia. Banyak teman-teman baru dan kami sangat senang karena kami tak harus bekerja sebagai pengemis dan pengamen lagi.

3 hari kemudian, seorang wanita pemilik panti itu memanggil aku dan menyuruhku memasuki kantornya. Disana terdapat wanita yang biasanya memberiku dan Enny kasih sayang di perempatan itu. Ia tersenyum kepadaku dan memeluk aku.

Ibu pemilik panti bersalam pada kakak itu dan berkata padaku bahwa ia adalah keluargaku yang baru. Aku ikut dengannya menuju mobil. "Kak, mengapa aku ikut dengan kakak?" Ujarku kepadanya.

"Ingat aku, Rere?" Ujarnya dengan lembut.

Saat itu aku sadar. Hanya satu orang yang memanggilku Rere dan orang itu adalah kakak perempuanku. Kak Rosa yang dulu hilang dan tak pernah kembali. Ia sekarang mempunyai kulit yang sehat, bibir yang merah, mobil yang mewah, baju bagus, dan sehat. Aku dengan terbata-bata bertanya padanya apakah ia Kak Rosa dan ia mengangguk.

"Ingat 11 tahun lalu, aku hilang? Aku dijual di rumah prostitusi. Aku berumur 15 saat itu dan aku bekerja sebagai wanita penghibur selama 4 tahun. Lalu, 7 tahun yang lalu, aku diadopsi oleh seorang kakek yang tak punya cucu, ia sungguh kaya dan menyayangi aku. 3 tahun yang lalu, ia mewarisiku semua kekayaannya. Sejak saat itu, aku mengusahakan segalanya untuk mencarimu tetapi tak kunjung bertemu sampai 2 bulan yang lalu."

"Mengapa Kak Rosa tidak langsung menyelamatkan aku waktu itu?" Ujarku menatapnya sambil ia mengendarai mobilnya.

Sebelum ia menjawab pertanyaanku, kami tiba di rumah yang sangat besar. 2 satpam membuka pintu gerbang dan mobil yang kunaiki ini masuk ke dalam rumah itu. Kak Rosa menyuruhku turun dan aku mengikutinya ke dalam rumah. Rumah ini mempunyai 3 lantai dan Kak Rosa sudah memiliki seorang suami. Ia memperkenalkannya padaku bahwa suaminya bernama Mario dan ia sudah menikah selama 1 tahun.

"Aku tidak menyelamatkanmu segera karena aku belum punya surat asuhmu. Aku mengurus semua surat-surat dan melapor ke polisi bahwa mereka adalah pembeli anak-anak untuk dipekerjakan. Aku mengurus semuanya agar kamu dan yang lain bisa hidup dengan tenang di panti dan aku menjemputmu agar kamu bisa hidup denganku." Ujarnya.

Sejak saat itu, aku mengikuti sekolah dan belajar keras hingga aku bisa mendapati kelas yang sesuai dengan umurku. Aku mengunjungi Enny dan lainnya di panti setiap sebulan sekali. Perlahan-lahan mereka satu persatu di adopsi oleh keluarga yang baik yang bisa menjaga mereka dengan baik.

Aku lulus dari SMA dan masuk ke Universitas Negeri dengan beasiswa 50% yang membuat kakak dan diriku bangga. Aku bekerja di perusahaan kakak sebagai 'financial manager' dan kakak bangga dengan pekerjaanku yang selalu beres.

Aku tak tahu bagaimana kabar ayah dan aku tak pernah menemuinya. Pernah satu kali aku pergi ke rumahku dulu tetapi tak bertemu dengannya. Kata tetangganya, ia pergi dari sana sudah lama sejak 2 anaknya hilang. Sampai sekarang, aku tak pernah bertemu dengannya lagi.

12 tahun telah berlalu, aku berumur 27 sekarang, kakak berumur 37. Kakak mempunyai 3 anak dan sangat bahagia di Jakarta. Sekarang, aku bekerja di perusahaan kakak sebagai pemimpin perusahaannya di Surabaya. Aku mempunyai seorang suami yang setia dan perhatian, Andreas, yang bekerja sebagai dokter bedah. Aku dikaruniai seorang anak perempuan yang kami namai Enny.

Pengalaman adalah pelajaran yang paling berharga dan kehidupan adalah guru terbaik yang pernah ada.

The End

No comments:

Post a Comment