Su Toque
(Sentuhanmu)
Oleh Stella Esperanza
Tap.. Tap..
Tap...
Saat ini, ia
berada di luar. Sebelumnya, ia adalah pribadi yang baik. Minggu ini, tak
seperti biasanya, di sekitar dirinya ada aura yang berbeda.
Malam ini
terasa dingin. Aku duduk di sudut ruangan dan melapisi diriku dalam selimutku
yang tipis. Aku ketakutan. Seluruh tubuhku terasa merinding dan bergetar. Andai
kakak disini, pikirku.
***
Aku lahir di
keluarga yang kurang mampu dan ayahku mabuk-mabukan setelah ibu meninggalkan
keluarga ini untuk menikah dengan seorang lelaki kaya. Aku tidak bersekolah dan
pekerjaanku sehari-hari adalah mengumpulkan barang-barang bekas atau membuat
suatu kreasi dari barang bekas dan menjualnya. Penghasilanku sehari-hari cukup
untuk memberiku, kakak perempuanku yang 10 tahun lebih tua dariku, dan ayahku
makanan sehari-hari.
Malam itu..
Aku duduk membaca buku di kamarku saat aku mendengar suara tertawa ayah dari
luar. Ayah pulang dengan membawa 5 botol bir dan makanan dari restoran. Aku
melihat tajam ke arah ayah yang duduk di kursi rumah yang reyot. Sedetik
kemudian, aku sadar.
"Yah..
Kakak dimana?" saat itu umurku masih sangat muda, 5 tahun. Aku dan kakak
tidak akrab dan selalu bertengkar walaupun karena hal-hal kecil. Tetapi pagi
ini, kakak pergi sebelum aku bangun pagi dan begitu pula dengan ayah.
"Kakakmu
tadi pergi, mungkin mencari uang. Tunggu saja dia pulang" kata ayah sambil
menghitung uang yang jumlahnya tak pernah kulihat.
"darimana
ayah mendapatkan uang sebanyak itu?" ujarku saat aku melihat ayah
menghitung uang.
"Ayah
menang lottere, nak. Besok ayo kita ke tempat buku bekas dan membeli beberapa
buku untukmu."
Aku sangat
senang karena ayah akan membelikanku buku baru. Esoknya, kamu sungguh pergi ke
toko loak buku dan aku membeli beberapa buku matematika dan bahasa. Ayahku
berkata bahwa kita akan hidup baik-baik saja.
***
Sudah 1
tahun berlalu sejak saat itu, kakak masih belum kembali ke rumah. Aku tak
pernah mengunci pintu rumah sebelum jam 12 malam, menunggu kakak untuk pulang.
Ayah selalu marah jika aku menunggu kakak pulang.
"Yah..
Sebenarnya kakak kemana? Sudah lama ia tidak pulang." Ayah hanya diam dan
tak menjawab apa-apa. Ia hanya kembali menghitung uang nya yang tak sebanyak
tahun lalu.
"Yah..
Sebaiknya ayah jangan membuang-buang uang untuk membeli bir lagi. Bagaimana
jika uang ayah habis? Kita akan kembali hidup sulit."
"Tak
apa, nak. Walaupun ayah hidup susah, ayah masih mempunyai dirimu" ayah
berkata sambil tersenyum kepadaku. Aku senang ayah berkata seperti itu karena
itu menandakan ayah akan tetap bersamaku walaupun kami susah.
***
Nostalgia
akan masa lama yang terngiang-ngiang di kepalaku. Saat itu juga, seseorang
mendobrak masuk ke dalam ruangan ini. Menarik dan menyeret aku keluar dari
tempat ini. Aku memberontak dan bertahan untuk tetap berada di tempat itu
tetapi, tak berdaya, kekuatanku tak mampu menandingi kekuatan ayahku.
Ia
menyeretku keluar dari ruangan itu dan membantingku ke lantai. Ia menyuruh aku
memakai baju yang baru ia belikan dan aku melakukan apa yang baru saja ia
suruh.
Aku masuk ke
dalam kamar mandi dan berganti baju. Baju itu kelihatan bagus dan baru. Terusan
bewarna biru dengan rok selutut, jepit rambut bewarna seirama, dan sepatu baru.
tanpa tau apa-apa, aku hanya mengikuti apa keinginannya. Aku keluar dari kamar
mandi dan berjalan menuju ayah.
Ayah
membawaku ke suatu tempat. Suatu ruangan yang dingin berisi 2 orang laki-laki
yang duduk di tengah ruangan. Ayah duduk di depan orang itu dan aku
mengikutinya. Mereka berkata hal-hal yang aneh, tak dimengerti olehku yang
masih berusia 14 tahun.
Salah satu
laki-laki itu memberikan amplop tebal bewarna putih kepada ayah. Ayah langsung
membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya, uang. Banyak sekali uang. Hampir
sebanyak uang yang waktu itu ayah hitung, saat kakak hilang.
Aku tersadar
akan kata-kata ayah waktu itu. Walaupun
ayah hidup susah, ayah masih mempunyai dirimu.
Kakak bukan
pergi. Ia dijual oleh ayah ke orang asing. Aku ketakutan dan menundukan
wajahku. Tiba-tiba, ayah dan kedua orang itu berdiri dan bersalaman, ayah
berjalan pergi. Aku mengikuti ayah untuk keluar dari tempat ini. Tetapi ayah
mendorong aku dan berkata bahwa aku harus tetap disini.
Aku melihat
punggung ayah dengan cepat meninggalkan aku. Ia meninggalkan aku tanpa melihat
ke belakang lagi. Teganya dia. Andaikan ibu ada disini, berkali-kali aku
berkata begitu pada diriku sendiri tetapi aku tau, hal itu tak mungkin terjadi.
Dua orang itu menyeret aku dan melemparku ke satu ruangan kecil yang sangat
dingin. Disana terdapat beberapa anak yang senasib dengan diriku. Mereka duduk
disana terdiam melihat ke arahku. Salah satu dari mereka mendekati aku.
"Halo,
nama aku Enny, aku sudah disini selama 2 tahun. Umurku 8 tahun" ujar anak
yang bertubuh kecil berambut keriting ini.
"Aku...
Rei... 14" jawabku sambil bergetar ketakutan. Tempat ini sangat kecil dan
gelap.
Disana
terdapat beberapa anak yang juga di jual oleh orangtuanya. Bahkan, beberapa
dari mereka ada yang sama sekai tak ingat orangtua mereka. Aku berkenalan
dengan setiap orang dari mereka. Jenny 17 tahun, Mario 12 tahun, Anni 12 tahun,
Andi 10 tahun, Enny 8 tahun, dan Mira 4 tahun. Ada yang sudah 4 tahun disini
dan ada juga yang baru 2 bulan.
Akhirnya,
aku sadar, aku dijual untuk menjadi pengemis. Esoknya, aku diberi baju yang
lusuh, bau, dan kotor untuk dipakai. Aku memakai baju itu sambil bersedih,
perasaanku benar-benar bercampur aduk. Apakah ayah tau aku diperlakukan seperti
ini? Mengapa ia tega?
Setelah itu,
kamu menaiki satu mobil panther bewarna hitam. Kami di turunkan satu persatu
dan dijaga oleh 1 orang dari mereka. 3 dari kami turun di lampu merah pertama
dan dijaga oleh 1 orang. Lalu, 2 lagi turun. Dan akhirnya, aku bersama Enny
dijaga oleh 1 orang yang berwajah brewok dan kekar.
"Hari
ini, kalian akan disini sampai jam 7 malam. Target kalian 40.000 jangan sampai
tidak dapat segitu jika lu pada mau makan ! Ngerti gak?!" Kata lelaki
brewok itu sambil menatap wajah kami.
Kami
menangguk ketakutan. Kami berdua berjalan di sekitar jalan itu dan mulai
mengelap mobil-mobil, menyanyi, dan berharap bahwa para pengemudi akan dengan
baik memberikan kami uang setidaknya 100 rupiah. Banyak yang memberi kamu uang,
mulai dari 100, 200, 500, sampai 1000 rupiah, tetapi tak sedikit juga yang
hanya menunjukan telapak tangannya ke hadapan aku atau Enny.
Tengah hari
pun datang. Terik matahari sungguh menyengat dan kami baru mengumpulkan 18.700
rupiah. Kami sungguh takut jika kami tak diberi makan. Kami kembali meminta-minta,
menyanyi di kaca-kaca tetapi tak jarang yang tak memberi kami apapun. Akhirnya
senja mulai tiba, aku memanggil Enny dari seberang jalan.
Kami duduk
diatas batu di seberang jalan jauh dari lelaki brewok yang sedang tidur. Enny
baru mengumpulkan 15.200 dan aku baru mengumpulkan 18.100. Belum sampai 40.000
dan waktu kami akan habis. Akhirnya, kami memutuskan untuk menyembungikan 4000
rupiah untuk membeli nasi malam nanti, jika kami bisa mengendap-endap keluar.
Benar saja.
Kami tidak berhasil mengumpulkan 40.000 rupiah bahkan setelah kami menghitung
ditambah 4000. Maka kami memutuskan menyimpan uang 4000 itu di balik celana
dalamku. Setelah penghujung hari tiba, lelaki itu memeriksa kami apakah kami
menyembunyikan uang lain. Kami gemetar takut mereka mengetahui bahwa kami mengambil
uang itu tetapi mereka tidak mengetahuinya dan kami lega saat mereka menyuruh
kami masuk ke dalam mobil.
Malam itu,
tak satupun dari kami yang mendapatkan makanan. Mereka menyuruh kami masuk ke
kamar dan tidak memberi kami makan. Beberapa saat kemudian, pintu terbuka dan
satu laki-laki masuk membawa karung besar.
"Buang
semua plastik dari botol-botol ini, jangan sampai ada yang tersisa."
Ujarnya keras.
Kami semua
mulai bekerja dengan perut kosong. Aku keluar dari pintu dan melihat mereka
bermain kartu sambil tertawa. Aku berkata pada mereka bahwa aku ingin pergi ke
wc dan mereka mengizinkannya. Mereka bertengkar tentang siapa yang akan
mengawasi aku dan akhirnya lelaki brewok yang tadi mengawasi aku.
Ia mengantar
aku ke wc umum dekat rumah mereka. Aku berkata bahwa aku akan agak lama karena
aku ingin buang air besar. Ia berkata oke dan melanjutkan dengan kalimat
"jangan terlalu lama". Aku mengangguk tanda setuju.
Begitu aku
masuk ke wc, aku mengintip keluar dan melihat ia berdiri di depan pintu
menghadap keluar. Aku mengendap-endap memanjat kloset dan keluar dari wc untuk
pergi ke warung yang kulewati saat menuju kesini. Aku berlari sekuat tenaga
agar menghemat waktu yang ada.
Sesampainya
disana, aku memesan nasi 4000 dan memohon agar nasi itu di pepet di kertas
bungkus. Aku juga memohon padanya agar memberikan aku kuah semur dan ibu warung
itu memberikan aku satu kantong pelastik. Akhirnya, aku mendapatkan 2 porsi
nasi putih dan sekantung kuah semur.
Aku segera
bergegas menuju wc tadi. Aku memanjat kembali ke wc itu dan menyembunyikan
makanan yang kubeli tadi. Aku menaruh nasi bungkus itu di kantung celanaku dan
menyembunyikan kantung kuah di balik rambutku yang panjang. Aku membuka pintu
wc dan ternyata lelaki brewok itu sedang tertidur.
Aku
membangunkannya dan berkata aku sudah selesai. Ia memukul kepalaku dan berkata
bahwa aku lama sekali dan menyuruhku mengikutinya kembali ke rumahnya. Selama
perjalanan, aku berdebar-debar ketakutan jika aku sampai ketauan membeli
makanan tanpa sepengetahuannya.
Akhirnya,
kami sampai ke dalam rumah dan aku kembali ke ruangan kecil itu. Aku segera
mengunci pintu kamar itu dan menghampiri Enny dan yang lain. Mereka masih
mengerjakan tugas botol itu dan aku menyuruh mereka berhenti sebentar untuk
makan sedikit.
Kami membagi
2 bungkus nasi itu untuk bertujuh. Masing-masing kira-kira mendapatkan
segenggam nasi dan kami juga membagi kuahnya. Kami makan perlahan dan menikmati
makanan tersebut. Mereka berterimakasih kepadaku yang telah mempertaruhkan
keselamatanku demi mereka. Malam itu, kami tidur bersama-sama melewati tengah
malam yang dingin.
Esoknya, target
mereka diturunkan menjadi 35.000, aku dan Enny bersama mencapai target kami dan
mendapatkan makan. Tetapi, ada juga yang tidak mendapatkan makan dan kami tidak
boleh memberi mereka makan. Saat aku makan, Jenny, Andi, dan Mira tidak
mendapatkan makanan. Aku diam-diam menggenggam nasi dalam tanganku dan
menyusupkannya ke dalam kantung celanaku. Lalu, saat mereka tak melihatku, aku
memasukan tempe dan tahu yang ada di piringku ke dalam kantungku yang lain.
Setelah
makan malam, aku mengeluarkan makanan itu dari kantungku. Mereka berterimakasih
lagi kepadaku dan aku meminta maaf pada mereka karena makanan itu tak lagi
bersih dan sehat. Mereka menangis dan memelukku lalu aku menyuruh mereka makan.
Hari-hari
terlewati seperti itu, kadang kami semua makan, kadang tidak. Kadang pula, aku
keluar untuk mengendap-endap membeli makanan. Walaupun awalnya kami tak saling
kenal, aku dan mereka semakin lama semakin akrab dan saling menyayangi. Kami
selalu membagi makanan yang ada dan melindungi satu sama lain jika para lelaki
itu memukuli salah satu dari kami.
sudah 1
bulan lamanya aku berada disini. Aku tak tahu berapa lama lagi aku bisa
bertahan seperti ini. Rasanya hidup sehari-hari terasa jauh lebih berat
daripada dulu.
Hari ini,
aku dan Enny bekerja seperti biasa, di perempatan lampu merah. Kami berdua
mengamen seperti biasa. Lalu, kaca mobil itu terbuka. Terlihat sosok wanita
berusia 20an dan melihat ke arah kami.
"Kak,
minta sedekahnya, kami belum makan sejak kemarin" ujarku meminta uang
darinya.
Ia manatap
kami dan bertanya siapa nama kami dan aku menjawab Rei dan Enny. Ia tersenyum
dan memberi kami 2 lembar uang 5000. Aku terkaget melihat lembaran uang itu
karena aku tak pernah melihat orang memberi kami uang sebesar itu. Tetapi, aku
dan Enny tidak berpikir lebih lanjut dan terus mencari uang.
Hari-haripun
terlewati dengan jerih payah. Keringat yang bercucuran setiap harinya tak
sebanding dengan rasa sakit yang aku rasakan saat ayah membuangku. Setiap
malam, aku selalu teringat punggung ayah yang dengan cepat meninggalkan aku di
tempat ini.
Tetapi,
sejak saat itu, setidaknya satu minggu sekali aku bertemu dengan wanita 20
tahunan itu. Ia selalu memberi aku dan Enny uang lebih ataupun makanan-makanan
kecil. Aku dan Enny senang jika kami melihat mobil terios bewarna silver
datang. Kami selalu mendatangi mobil itu mengharapkan bahwa wanita itu lah yang
ada di dalam mobil tersebut.
Satu minggu,
dua minggu, tiga minggu, satu bulan, dan dua bulanpun berlalu. Aku dan Enny
selalu ditempatkan di perempatan yang sama.
Satu saat di
bulan Mei, saat aku dan Jenny berulang tahun. Enny, Mario, dan yang lainnya
merayakan ulangtahunku. Memang bukan ulangtahun dengan kue dan lilin seperti
biasa tetapi hal itu sangat istimewa. Mereka menyanyikan lagu happy birthday
sambil tersenyum. Rasanya, membuat kami semakin dekat seperti keluarga.
Hari itu
juga, jam 11 malam, tiba-tiba rumah ini di gebrak oleh polisi. 3 lelaki itu di
borgol sementara kami ketakutan dan mengintip keluar melalui sela-sela pintu.
Seorang polisi membuka pintu dan menggandeng kami keluar dari ruangan itu
menuju mobil. Aku dan yang lainnya duduk di mobil polisi sambil bertanya-tanya
ada apa ini.
Esoknya,
kami ditaruh di suatu rumah dan terpampang "PANTI ASUHAN B-T-N". Kami
tau bahwa seseorang menyelamatkan kami dari 3 lelaki itu. Kami tinggal di panti
asuhan dengan bahagia. Banyak teman-teman baru dan kami sangat senang karena
kami tak harus bekerja sebagai pengemis dan pengamen lagi.
3 hari
kemudian, seorang wanita pemilik panti itu memanggil aku dan menyuruhku
memasuki kantornya. Disana terdapat wanita yang biasanya memberiku dan Enny
kasih sayang di perempatan itu. Ia tersenyum kepadaku dan memeluk aku.
Ibu pemilik
panti bersalam pada kakak itu dan berkata padaku bahwa ia adalah keluargaku
yang baru. Aku ikut dengannya menuju mobil. "Kak, mengapa aku ikut dengan
kakak?" Ujarku kepadanya.
"Ingat
aku, Rere?" Ujarnya dengan lembut.
Saat itu aku
sadar. Hanya satu orang yang memanggilku Rere dan orang itu adalah kakak
perempuanku. Kak Rosa yang dulu hilang dan tak pernah kembali. Ia sekarang
mempunyai kulit yang sehat, bibir yang merah, mobil yang mewah, baju bagus, dan
sehat. Aku dengan terbata-bata bertanya padanya apakah ia Kak Rosa dan ia
mengangguk.
"Ingat
11 tahun lalu, aku hilang? Aku dijual di rumah prostitusi. Aku berumur 15 saat
itu dan aku bekerja sebagai wanita penghibur selama 4 tahun. Lalu, 7 tahun yang
lalu, aku diadopsi oleh seorang kakek yang tak punya cucu, ia sungguh kaya dan
menyayangi aku. 3 tahun yang lalu, ia mewarisiku semua kekayaannya. Sejak saat
itu, aku mengusahakan segalanya untuk mencarimu tetapi tak kunjung bertemu sampai
2 bulan yang lalu."
"Mengapa
Kak Rosa tidak langsung menyelamatkan aku waktu itu?" Ujarku menatapnya
sambil ia mengendarai mobilnya.
Sebelum ia
menjawab pertanyaanku, kami tiba di rumah yang sangat besar. 2 satpam membuka
pintu gerbang dan mobil yang kunaiki ini masuk ke dalam rumah itu. Kak Rosa
menyuruhku turun dan aku mengikutinya ke dalam rumah. Rumah ini mempunyai 3
lantai dan Kak Rosa sudah memiliki seorang suami. Ia memperkenalkannya padaku
bahwa suaminya bernama Mario dan ia sudah menikah selama 1 tahun.
"Aku
tidak menyelamatkanmu segera karena aku belum punya surat asuhmu. Aku mengurus
semua surat-surat dan melapor ke polisi bahwa mereka adalah pembeli anak-anak
untuk dipekerjakan. Aku mengurus semuanya agar kamu dan yang lain bisa hidup
dengan tenang di panti dan aku menjemputmu agar kamu bisa hidup denganku."
Ujarnya.
Sejak saat
itu, aku mengikuti sekolah dan belajar keras hingga aku bisa mendapati kelas
yang sesuai dengan umurku. Aku mengunjungi Enny dan lainnya di panti setiap
sebulan sekali. Perlahan-lahan mereka satu persatu di adopsi oleh keluarga yang
baik yang bisa menjaga mereka dengan baik.
Aku lulus
dari SMA dan masuk ke Universitas Negeri dengan beasiswa 50% yang membuat kakak
dan diriku bangga. Aku bekerja di perusahaan kakak sebagai 'financial manager'
dan kakak bangga dengan pekerjaanku yang selalu beres.
Aku tak tahu
bagaimana kabar ayah dan aku tak pernah menemuinya. Pernah satu kali aku pergi
ke rumahku dulu tetapi tak bertemu dengannya. Kata tetangganya, ia pergi dari
sana sudah lama sejak 2 anaknya hilang. Sampai sekarang, aku tak pernah bertemu
dengannya lagi.
12 tahun
telah berlalu, aku berumur 27 sekarang, kakak berumur 37. Kakak mempunyai 3
anak dan sangat bahagia di Jakarta. Sekarang, aku bekerja di perusahaan kakak
sebagai pemimpin perusahaannya di Surabaya. Aku mempunyai seorang suami yang
setia dan perhatian, Andreas, yang bekerja sebagai dokter bedah. Aku dikaruniai
seorang anak perempuan yang kami namai Enny.
Pengalaman adalah pelajaran yang paling berharga dan
kehidupan adalah guru terbaik yang pernah ada.
The End
No comments:
Post a Comment