She’s Broken
She’s Broken and
He’s OK
"Semoga ia
diterima di sisi Tuhan Yang Mahaesa"
***
Ne, begitulah
panggilan orang-orang kepada temanku yang satu ini, Vannie Elisabeth. Hanya aku
sendiri memanggilnya Eli, karena menurutku panggilan tersebut lebih akrab dan
bersahabat. Eli adalah orang yang sangat baik dan rendah hati, aku suka
berteman dengannya. Saat ini Eli berpacaran dengan John, salah satu cowok
populer di kampus.
"Eli. Kamu
gamau putus aja sama John? Aku dengar dia main cewek di belakang kamu loh. Kamu
hati-hati ya." Ujarku pada Eli siang itu.
Aku selalu
menyarankan Eli untuk putus dengan John karena John selalu saja menyakiti hati
Eli. Entah menghiraukan dia, melupakan anniversary, melupakan hari ulang
tahunnya, kadang telat saat janjian kencan, dan lainnya. Tetapi, Eli selalu
berkata bahwa selama John meminta maaf, ia akan memaafkannya.
Karena itulah ia
mudah dipermainkan oleh John, pikirku. Tetapi, aku tak mampu mengungkapkan
pernyataan itu kepada Eli yang sudah bersahabat denganku 21 tahun, sejak SD.
***
Pertama ia
bertemu dengan John, 6 tahun lalu, pada semester satu permulaan kampus. Ia
sangat senang saat ia berbicara pertama kali pada John. Eli bercerita kepadaku
tentang bagaimana John berpakaian, apa kesukaannya, dan lain sebagainya.
Sampai akhirnya,
pengorbanan Eli mendekati John selama 6 bulan berhasil. Eli menembak John dan
John menerima Eli. Aku sangat ingat, 12 September 2006 tepatnya. Ia sangat
senang sampai-sampai ia mentraktirku makan Hanamasa. Ia bercerita tentang
bagaimana John menerimanya.
Hmm.. Bisa
dibilang Eli itu orang yang sangat kaya. Ayahnya CEO perusahaan dan ibunya
merupakan anggota DPR. Walaupun begitu ia tetap rendah hati. Ya, pantas saja
sehari setelah ia mengetahui bahwa Eli adalah keluarga kaya, ia menerimanya. Aku
juga ingat waktu itu ia menceritakan bagaimana John memeluknya dan mengajaknya
berkencan sabtu 2 hari lagi.
Aku turut senang
jika Eli senang. Ia selalu tersenyum jika ia bercerita tentang bagaimana John
menyayangi dia. Aku pun selalu tetap berada di sisinya bagaimana pun ia senang
bagaimanapun ia galau.
Tetapi, berjalan
1 tahun kehidupan romansa mereka berdua. Eli semakin jauh dariku. Kadang ia pun
tak segan-segan meninggalkan aku sendirian di kampus saat John mengajaknya
berkencan. Eli semakin sering menitip absen kelas jika kelas dimulai pagi hari.
Aku takut jika Eli menjadi kebablasan dan dirusak oleh John. Eli baru saja akan
memasuki umurnya ke 23, apa yang terjadi jika dia hamil? Aku tak tahu lebih
tepatnya. Setiap aku bertanya pada Eli, ia selalu berkata bahwa tak akan ia
melakukan sex sebelum ia menikah dan aku percaya padanya.
Malam ini langit
begitu gelap. Siska, teman SMAku sekarang mempunyai 1 klub malam yang ada di
sudut kota, cukup terkenal sekarang. Siska mengundang aku untuk berkunjung
kesana. Ceritanya begini:
Waktu itu aku
sedang makan siang dengan Eli dan John menelepon Eli untuk menjemputnya di
stasiun. Tentu saja, Eli meninggalkan aku untuk menjemput John. Lalu, akhirnya
aku sendirian duduk di McCafe bersama dengan seporsi burger dan kentang goreng.
Tiba-tiba, satu cewe menyapaku dan orang itu ternyata Siska.
Nah, begitulah
aku bertemu kembali dengan Siska dan berakhir di klub malamnya malam ini. Siska
mengenalkan aku pada kedua temannya, Mari dan Maya. Mereka bukan wanita yang
tidak benar atau apapun, mereka hanya sering berkunjung kesini karena ada waktu
luang.
Aku berbincang
dengan mereka dan tanpa sadar waktu sudah menunjukan pukul 11 malam. Aku
berkata bahwa aku sudah mau pulang dan Siska menahan aku untuk sebentar lagi
ada disini. Maka, aku menunggunya sampai ia menutup klub.
Terkejutnya aku
saat aku melihat John masuk dari pintu depan. Aku mungkin salah lihat, tetapi
tidak. Itu benar-benar John. Ia sedang merangkul 2 wanita yang sangat seksi di
kanan dan kirinya. Aku dengan segera bertanya pada Siska siapa dia.
"Dia John.
Setiap minggu sekitar tengah malam, dia pasti kesini dan kalo ga menggaet cewe
baru, dia pasti bawa cewe buat 'main-main', tau lah. Lu minat sama dia?"
ujarnya padaku.
Aku tak kuasa
berkata apa-apa. Bagaimana dengan Eli?
Esoknya, aku bertemu dengan Eli di kampus seperti biasa. Aku bertanya bagaimana
sikap John kepadanya dan ia mengatakan bahwa John sangat baik padanya dan ia
semakin menyukai John. Aku bingung mengapa Eli tidak menyadari bahwa John
'bermain' dibelakangnya.
Akupun berkata
pada Siska bahwa jika malam ini John datang, telepon aku. Aku sungguh ingin tau
mengapa John bersikap seperti itu pada Eli yang sangat menyukainya. Dan
seharusnya John tau akan hal itu. Malam itu, Siska benar-benar menelepon aku
dan aku segera datang kesana. Aku memperhatika gerak-gerik John setiap malam
sejak saat itu. Hampir 5 hari seminggu ia datang ke klub malam itu dan membawa
cewe atau menggaet cewe disana.
Sebulan aku
selalu melakukan hal itu. Rasanya aku benar-benar kasihan kepada Eli. Malam
sebelumnya aku selalu melihat John di bar dan esoknya Eli selalu tetap senang
dan bahagia apabila John mengirim pesan atau meneleponnya.
Tiba-tiba setelah
satu setengah bulan aku selalu ke bar itu. Aku pun menyerah untuk
memata-matainya lagi. Aku tak mendapat info yang berharga dari ke bar ini.
Maka, aku memutuskan bahwa malam ini adalah malam terakhirku disini. Aku tidak
bersembunyi di balik pintu staff seperti yang biasa aku lakukan. Malam ini, aku
duduk di kursi bar dan memesan 1 shirley
temple.
Aku duduk disana
sambil berbincang dengan Siska yang berada di balik bar. Tiba-tiba, aku
terkejut saat John menghampiri aku. Well,
John tidak pernah benar-benar bertemu denganku dan mungkin saja ia tidak
familiar dengan wajahku hari ini karena hari ini aku berbeda.
Aku yang biasanya
memakai kaus, celana pendek, kacamata, dan topi untuk ke kampus. Hari ini di
bar, aku memakai terusan pendek tak berlengan dan rambutku ku gerai lepas. Aku
juga berdandan sedikit karena kupikir malam ini aku tidak berada di balik pintu
melainkan di bar, officially. Jadi, kupikir tak apa untuk berdandan setidaknya
pas untuk di bar.
"Dua tequilla
untukku dan wanita cantik di sebelahku ini" ujarnya di tengah aku
berbincang dengan Siska.
Aku melihat
wajahnya dan ia tersenyum padaku serta mengajakku berkenalan. Aku sebenarnya
bingung akan berkata apa tetapi aku menerima ajakannya berkenalan. Sebenarnya, apa yang aku lakukan? Ucapku
dalam kesunyian hati. Ia mengajakku berbincang dan mengobrol sampai satu saat
ia mengajakku ke hotel. Dan aku, tentu saja, menolak ajakannya tersebut.
Tetapi, John
malah makin mendekati aku. Jadi, kupikir, dari sini aku bisa mengorek informasi
darinya. Maka, setiap rabu malam aku selalu datang ke bar itu. Well, sesuai dugaanku ia selalu
mendekati aku setiap aku hadir. Mungkin ia berpikir aku ini tipe yang sulit di
dapat sampai-sampai ia mencoba untuk mengejar aku.
3 minggu pertama,
ia tak memberiku informasi apa-apa. Pada minggu ke empat, aku tau bahwa ia
sedang melewati masa kuliah, umurnya 26, dan ia mempunyai pacar bernama Vannie
Elisabeth. Well, sebenarnya aku sudah tau tetapi kali ini ia yang memberitauku
secara blak-blakan. Lalu aku berkata padanya mengapa ia masih main-main saat ia
bahkan sudah punya pacar. Tentu saja, ia tak memberitahuku secara blak-blakan
bahwa ia sudah mempunyai pacar. Aku berakting susah payah untuk memainkan role
‘bad girl’ di depannya supaya ia bisa terbuka.
Aku sudah menduga
jawaban itu tetapi hal itu tetap mengejutkan aku. Aku hanya tertawa dan tak tau
harus membalas apa. Sejak saat itu aku tidak lagi datang ke bar. Aku sudah tau
semua alasan mengapa ia tetap berpacaran dengan Eli selama 6 tahun.
“Pacarku itu
orang agak bodoh tetapi ia sangat baik. Ia bisa dengan mudahnya mengeluarkan
uang untukku. Lihat jam tangan ini, ini dibelikan olehnya dan mereknya Rolex.
Seingatku, waktu itu aku hanya berkata padanya aku naksir jam ini dan sebulan
kemudian, ia memberikanku kado berupa jam ini.” Ujarnya sambil tertawa dan
memasang wajahnya yang menurutku memuakan.
Esoknya, aku
tetap bersikap seperti biasa kepada Eli. Aku masih memberi dia masukan untuk
putus dengan John. Bahkan, kali ini aku lebih teguh untuk menyarankannya. Hal
yang bodoh yang aku lakukan.
Siang itu, tanpa
ada apa-apa, John datang menghampiri Eli. Saat itu, aku dan Eli berada di
cafetaria kampus dan tiba-tiba John datang dan memeluk Eli. Eli terlihat
gembira, wajahnya berseri saat melihat John datang. Aku langsung menunduk dan
berusaha untuk menghindari tatapan mata langsung dengan John.
"El, aku
pergi dulu ya." Ujarku pada Eli.
Aku segera
membalikan badanku untuk segera pergi saat tiba-tiba, John memanggil namaku
dengan jelas. "Gaby?" Aku terkejut dan hendak berlari. Jelas sekali,
Eli bingung dengan situasi ini. John mengejar aku dan memegang tanganku
(walaupun terdengar seperti sinetron, sebenarnya tidak begitu romantis, karena
kami di kafetaria dengan semua orang yang tidak menghiraukan kami) dan aku
menengok padanya.
Eli berteriak dan
bertanya ada apa ini. Aku menjelaskan sejujurnya bahwa John bermain dengan
banyak wanita di bar tetapi ia tak percaya, ia malah menyalahkan aku karena aku
mengambil pacarnya. Aku benar-benar berusaha mengelaknya dan ia malah menangis
dan menyiram aku dengan air dingin. Di tengah kafetaria.
John melepas
tanganku dan pergi begitu saja. Well,
aku ga berharap banyak sama cowok yang tipenya 'catch and run' kayak dia. Aku mengambil tasku lalu meminta maaf
pada Eli.
"Aku nggak
bermaksud untuk mengambil John atau apa. Tapi, dari awal, John memang udah
kayak gitu. Dia cuma ngincer uang lu doang, El. Lu harus percaya sama
gua." ujarku dengan rambut dan baju yang basah. Aku langsung pergi
perlahan dari kafetaria menahan malu yang teramat sangat dan langsung pulang ke
rumah.
Aku terus
berpikir bagaimana aku akan bertemu dengan Eli besok. Aku benar-benar pusing
bagaimana aku akan berkata lagi pada Eli setelah segala hal yang terjadi. Dari
awal, seharusnya aku tak memata-matai John.
Esoknya, Eli
benar-benar tidak berbicara padaku dan ia terlihat sangat kosong dan suram.
Beberapa hari kemudian, ia mendatangi aku dan menampar aku.
"Kemarin
John putus denganku! Semua itu karena kamu!!" Ujarnya keras sambil
menangis. Wajahnya
sudah seperti orang gila.
Sejak saat itu,
Eli sering bolos kuliah, bahkan ia tak menitip absen. Setiap hari sejak saat
itu, aku selalu mengunjungi rumah Eli. Tetapi, tak sekalipun ia membukakan
pintu untukku.
Hari ini, 30 Mei,
Hari ini Eli berulangtahun dan aku mengunjungi rumahnya membawa kue berukuran
20x20 yang kubeli di harvest. Aku mengetuk pintu rumahnya dan aku menunggu
untuk beberapa menit. Saat aku mulai menyerah dan ingi berbalik pulang...
BRAKKKK!!
Kudengar bunyi
yang sangat kencang dari dalam rumah Eli. Aku mengetuk pintu dengan kencang dan
pintu itu tetap tidak terbuka. Akhirnya aku memutuskan untuk mendobrak pintu
itu. Tiga kali aku mendobrak sampai akhirnya pintu itu terbuka juga.
Aku berteriak
nama Eli berkali-kali dengan keras. Aku mencarinya ke setiap ruangan. Ruang
tamu, dapur di lantai pertama. Akupun naik ke lantai kedua, berharap dapat
menemukan Eli dan aku sungguh terkejut saat aku melihat Eli tergeletak di
lantai kamarnya dengan tali tambang di lehernya dan kipas angin yang menimpanya.
Aku langsung
menelepon 911 karena hanya itu nomor darurat yang aku tau. Aku menangis
memberitau bahwa semua ini terjadi. Terjadi.
Beberapa menit
kemudian, mobil ambulance datang dan mengangkat tubuh Eli. Aku ikut naik ke
dalam ambulance. Aku melihat secarik kertas di meja tulis Eli dan aku ambil
sebelum memasuki ambulance. Aku membacanya.
Mungkin jika aku mati, semua akan tetap baik-baik
saja. Jika seseorang yang membaca ini, aku ingin memintanya untuk menyampaikan
maafku kepada kedua orangtuaku dan Anissa, maafkan aku meninggalkan kalian
tanpa memberitahukan apa yang telah terjadi. Hidup ini sudah sangat sulit dan
hartapun tidak menjawab segalanya. Ini bukan kesalahan kalian, melainkan aku.
aku tidak ingin kalian menangis karena kekonyolan diriku untuk mengambil
tindakan ini.
Maaf juga Gaby
(Gabriella Sellie) karena aku sudah menuduhmu mengambil kekasihku. Maaf.
Selama ini aku tau 'dia' bukan benar-benar cinta padaku, melainkan harta dan
tubuhku. aku sadar kamu selalu mendukung aku dalam situasi apapun. Belakangan,
aku sungguh merasa hampir gila. Hartaku tak membantu, Gab. Aku tak bisa tidur
di malam hari, aku tak bisa makan dengan normal, otakku sudah kacau. Tak bisa
lagi aku hidup.
Aku hanya ingin berkata bahwa kematian ini
bukanlah hal yang konyol. Tetapi, aku hanya ingin mati saja, aku merasa hal itu
yang benar. Bukan salah siapa-siapa.
Tertanda,
Vannie Elisabeth
Aku duduk terpana
melihat surat yang ia tulis itu. Aku memandangi wajah Eli yang sudah putih pucat
dan setelah sampai di rumah sakit, troli yang membawa tubuhnya itu didorong keluar mobil ambulance menuju ke
UGD. Aku tak boleh masuk. Aku tak tau lagi apa yang harus aku lakukan atau apa
yang harus aku katakan. Aku dengan segera menelepon kedua orangtua Eli sebegitu
aku sadar bahwa mereka patut tau apa yang terjadi.
Sebelum orangtua
Eli datang, beberapa menit kemudian, aku melihat dokter keluar dari ruang UGD
dan mengarah kepadaku. Aku berdiri seketika dan dokter bertanya apakah aku
adalah keluarganya. Aku berkata bahwa aku sudah menelepon keluarganya dan
keluarganya akan datang beberapa jam lagi karena mereka tinggal cukup jauh.
Aku menangis
karena aku tau, Eli pasti sudah meninggal. Aku berkata pada dokter untuk
mengatakan padaku apa yang sesungguhnya terjadi.
"Vannie
Elisabeth divonis bunuh diri pada sekitar 3 jam yang lalu. Mati karena gantung
diri dan beberapa menit lalu mayatnya yang masih basah tertimpa kipas angin
yang tak mampu menahan berat tubuhnya. Hampir organ bagian dalamnya tertekan
berat kipas itu sampai hampir hancur." Jelas dokter padaku.
Aku lebih-lebih
terkejut setelah mendengar kata-kata dokter selanjutnya. Hal tersebut rasanya
menjelaskan semua yang Eli lalui.
“Sedangkan bayi berumur
3 bulan yang berada di kandungannya sebelumnya hancur akibat berat kipas angin
yang menimpa perut Vannie Elisabeth. Saya harap Anda merelakan kepergian
Vannie.” Ujarnya dengan tegas.
Aku sadar, aku
bertengkat dengan Eli 4 bulan yang lalu dan mungkin saja, mungkin, ia bersedih
karena ia hamil. Memang belakangan ia jarang masuk kuliah dan ia bertambah
suram. Mengapa aku tak menyadari seseegera mungkin? Aku merenung semalaman
menunggu kedua orangtua Eli datang.
Beberapa jam
kemudian, orangtua Eli datang dan bertanya kepadaku apa yang terjadi. Aku
bercerita semampuku dan memberitau mereka tentang surat. Mereka menangis mengetahui
anak pertamanya telah meninggal dunia.
***
Akhirnya, saat
ini, detik ini juga, ia dimakamkan. Malam ini begitu gelap dan duka, keluarga
Eli duduk di baris paling depan. Ibunya mengisakan tangis sedih dan Anissa,
adiknya, meneteskan air mata tanpa berkata apapun. Semoga ia diterima di sisi
Tuhan Yang Mahaesa.
"Amin."
Aku mendengar suara familiar dari arah kananku. Kulihat John yang sedang
berdiri di sebelahku di pemakaman sahabatku yang telah ia permainkan. Aku
berteriak padanya:
"INI SEMUA
SALAHMU!!! MENGAPA KAU MASIH DATANG, DASAR MANUSIA TAK TAU DIRI!!!" Ujarku
keras sambil mendorongnya.
Aku ditahan oleh
beberapa orang disana. John hanya berkata bahwa ia hanya teman Eli dan ia tak
tau apa yang Eli lewati sampai ia bunuh diri. Tentu semua orang percaya. Aku
hanya berteriak dengan sangat keras.
"JAHANAM KAU
!!!!!!!"
The
End