Thursday, September 12, 2013

sHE'S brOKen


She’s Broken
She’s Broken and He’s OK


"Semoga ia diterima di sisi Tuhan Yang Mahaesa" 

***

Ne, begitulah panggilan orang-orang kepada temanku yang satu ini, Vannie Elisabeth. Hanya aku sendiri memanggilnya Eli, karena menurutku panggilan tersebut lebih akrab dan bersahabat. Eli adalah orang yang sangat baik dan rendah hati, aku suka berteman dengannya. Saat ini Eli berpacaran dengan John, salah satu cowok populer di kampus.

"Eli. Kamu gamau putus aja sama John? Aku dengar dia main cewek di belakang kamu loh. Kamu hati-hati ya." Ujarku pada Eli siang itu.

Aku selalu menyarankan Eli untuk putus dengan John karena John selalu saja menyakiti hati Eli. Entah menghiraukan dia, melupakan anniversary, melupakan hari ulang tahunnya, kadang telat saat janjian kencan, dan lainnya. Tetapi, Eli selalu berkata bahwa selama John meminta maaf, ia akan memaafkannya.

Karena itulah ia mudah dipermainkan oleh John, pikirku. Tetapi, aku tak mampu mengungkapkan pernyataan itu kepada Eli yang sudah bersahabat denganku 21 tahun, sejak SD.
***

Pertama ia bertemu dengan John, 6 tahun lalu, pada semester satu permulaan kampus. Ia sangat senang saat ia berbicara pertama kali pada John. Eli bercerita kepadaku tentang bagaimana John berpakaian, apa kesukaannya, dan lain sebagainya.


Sampai akhirnya, pengorbanan Eli mendekati John selama 6 bulan berhasil. Eli menembak John dan John menerima Eli. Aku sangat ingat, 12 September 2006 tepatnya. Ia sangat senang sampai-sampai ia mentraktirku makan Hanamasa. Ia bercerita tentang bagaimana John menerimanya.

Hmm.. Bisa dibilang Eli itu orang yang sangat kaya. Ayahnya CEO perusahaan dan ibunya merupakan anggota DPR. Walaupun begitu ia tetap rendah hati. Ya, pantas saja sehari setelah ia mengetahui bahwa Eli adalah keluarga kaya, ia menerimanya. Aku juga ingat waktu itu ia menceritakan bagaimana John memeluknya dan mengajaknya berkencan sabtu 2 hari lagi.

Aku turut senang jika Eli senang. Ia selalu tersenyum jika ia bercerita tentang bagaimana John menyayangi dia. Aku pun selalu tetap berada di sisinya bagaimana pun ia senang bagaimanapun ia galau.
Tetapi, berjalan 1 tahun kehidupan romansa mereka berdua. Eli semakin jauh dariku. Kadang ia pun tak segan-segan meninggalkan aku sendirian di kampus saat John mengajaknya berkencan. Eli semakin sering menitip absen kelas jika kelas dimulai pagi hari. Aku takut jika Eli menjadi kebablasan dan dirusak oleh John. Eli baru saja akan memasuki umurnya ke 23, apa yang terjadi jika dia hamil? Aku tak tahu lebih tepatnya. Setiap aku bertanya pada Eli, ia selalu berkata bahwa tak akan ia melakukan sex sebelum ia menikah dan aku percaya padanya.

Malam ini langit begitu gelap. Siska, teman SMAku sekarang mempunyai 1 klub malam yang ada di sudut kota, cukup terkenal sekarang. Siska mengundang aku untuk berkunjung kesana. Ceritanya begini:

Waktu itu aku sedang makan siang dengan Eli dan John menelepon Eli untuk menjemputnya di stasiun. Tentu saja, Eli meninggalkan aku untuk menjemput John. Lalu, akhirnya aku sendirian duduk di McCafe bersama dengan seporsi burger dan kentang goreng. Tiba-tiba, satu cewe menyapaku dan orang itu ternyata Siska.

Nah, begitulah aku bertemu kembali dengan Siska dan berakhir di klub malamnya malam ini. Siska mengenalkan aku pada kedua temannya, Mari dan Maya. Mereka bukan wanita yang tidak benar atau apapun, mereka hanya sering berkunjung kesini karena ada waktu luang.

Aku berbincang dengan mereka dan tanpa sadar waktu sudah menunjukan pukul 11 malam. Aku berkata bahwa aku sudah mau pulang dan Siska menahan aku untuk sebentar lagi ada disini. Maka, aku menunggunya sampai ia menutup klub.

Terkejutnya aku saat aku melihat John masuk dari pintu depan. Aku mungkin salah lihat, tetapi tidak. Itu benar-benar John. Ia sedang merangkul 2 wanita yang sangat seksi di kanan dan kirinya. Aku dengan segera bertanya pada Siska siapa dia.

"Dia John. Setiap minggu sekitar tengah malam, dia pasti kesini dan kalo ga menggaet cewe baru, dia pasti bawa cewe buat 'main-main', tau lah. Lu minat sama dia?" ujarnya padaku.

Aku tak kuasa berkata apa-apa. Bagaimana dengan Eli? Esoknya, aku bertemu dengan Eli di kampus seperti biasa. Aku bertanya bagaimana sikap John kepadanya dan ia mengatakan bahwa John sangat baik padanya dan ia semakin menyukai John. Aku bingung mengapa Eli tidak menyadari bahwa John 'bermain' dibelakangnya.

Akupun berkata pada Siska bahwa jika malam ini John datang, telepon aku. Aku sungguh ingin tau mengapa John bersikap seperti itu pada Eli yang sangat menyukainya. Dan seharusnya John tau akan hal itu. Malam itu, Siska benar-benar menelepon aku dan aku segera datang kesana. Aku memperhatika gerak-gerik John setiap malam sejak saat itu. Hampir 5 hari seminggu ia datang ke klub malam itu dan membawa cewe atau menggaet cewe disana.

Sebulan aku selalu melakukan hal itu. Rasanya aku benar-benar kasihan kepada Eli. Malam sebelumnya aku selalu melihat John di bar dan esoknya Eli selalu tetap senang dan bahagia apabila John mengirim pesan atau meneleponnya.

Tiba-tiba setelah satu setengah bulan aku selalu ke bar itu. Aku pun menyerah untuk memata-matainya lagi. Aku tak mendapat info yang berharga dari ke bar ini. Maka, aku memutuskan bahwa malam ini adalah malam terakhirku disini. Aku tidak bersembunyi di balik pintu staff seperti yang biasa aku lakukan. Malam ini, aku duduk di kursi bar dan memesan 1 shirley temple.

Aku duduk disana sambil berbincang dengan Siska yang berada di balik bar. Tiba-tiba, aku terkejut saat John menghampiri aku. Well, John tidak pernah benar-benar bertemu denganku dan mungkin saja ia tidak familiar dengan wajahku hari ini karena hari ini aku berbeda.

Aku yang biasanya memakai kaus, celana pendek, kacamata, dan topi untuk ke kampus. Hari ini di bar, aku memakai terusan pendek tak berlengan dan rambutku ku gerai lepas. Aku juga berdandan sedikit karena kupikir malam ini aku tidak berada di balik pintu melainkan di bar, officially. Jadi, kupikir tak apa untuk berdandan setidaknya pas untuk di bar.

"Dua tequilla untukku dan wanita cantik di sebelahku ini" ujarnya di tengah aku berbincang dengan Siska.

Aku melihat wajahnya dan ia tersenyum padaku serta mengajakku berkenalan. Aku sebenarnya bingung akan berkata apa tetapi aku menerima ajakannya berkenalan. Sebenarnya, apa yang aku lakukan? Ucapku dalam kesunyian hati. Ia mengajakku berbincang dan mengobrol sampai satu saat ia mengajakku ke hotel. Dan aku, tentu saja, menolak ajakannya tersebut.

Tetapi, John malah makin mendekati aku. Jadi, kupikir, dari sini aku bisa mengorek informasi darinya. Maka, setiap rabu malam aku selalu datang ke bar itu. Well, sesuai dugaanku ia selalu mendekati aku setiap aku hadir. Mungkin ia berpikir aku ini tipe yang sulit di dapat sampai-sampai ia mencoba untuk mengejar aku.

3 minggu pertama, ia tak memberiku informasi apa-apa. Pada minggu ke empat, aku tau bahwa ia sedang melewati masa kuliah, umurnya 26, dan ia mempunyai pacar bernama Vannie Elisabeth. Well, sebenarnya aku sudah tau tetapi kali ini ia yang memberitauku secara blak-blakan. Lalu aku berkata padanya mengapa ia masih main-main saat ia bahkan sudah punya pacar. Tentu saja, ia tak memberitahuku secara blak-blakan bahwa ia sudah mempunyai pacar. Aku berakting susah payah untuk memainkan role ‘bad girl’ di depannya supaya ia bisa terbuka.

Aku sudah menduga jawaban itu tetapi hal itu tetap mengejutkan aku. Aku hanya tertawa dan tak tau harus membalas apa. Sejak saat itu aku tidak lagi datang ke bar. Aku sudah tau semua alasan mengapa ia tetap berpacaran dengan Eli selama 6 tahun.

“Pacarku itu orang agak bodoh tetapi ia sangat baik. Ia bisa dengan mudahnya mengeluarkan uang untukku. Lihat jam tangan ini, ini dibelikan olehnya dan mereknya Rolex. Seingatku, waktu itu aku hanya berkata padanya aku naksir jam ini dan sebulan kemudian, ia memberikanku kado berupa jam ini.” Ujarnya sambil tertawa dan memasang wajahnya yang menurutku memuakan.

Esoknya, aku tetap bersikap seperti biasa kepada Eli. Aku masih memberi dia masukan untuk putus dengan John. Bahkan, kali ini aku lebih teguh untuk menyarankannya. Hal yang bodoh yang aku lakukan.

Siang itu, tanpa ada apa-apa, John datang menghampiri Eli. Saat itu, aku dan Eli berada di cafetaria kampus dan tiba-tiba John datang dan memeluk Eli. Eli terlihat gembira, wajahnya berseri saat melihat John datang. Aku langsung menunduk dan berusaha untuk menghindari tatapan mata langsung dengan John.

"El, aku pergi dulu ya." Ujarku pada Eli.

Aku segera membalikan badanku untuk segera pergi saat tiba-tiba, John memanggil namaku dengan jelas. "Gaby?" Aku terkejut dan hendak berlari. Jelas sekali, Eli bingung dengan situasi ini. John mengejar aku dan memegang tanganku (walaupun terdengar seperti sinetron, sebenarnya tidak begitu romantis, karena kami di kafetaria dengan semua orang yang tidak menghiraukan kami) dan aku menengok padanya.

Eli berteriak dan bertanya ada apa ini. Aku menjelaskan sejujurnya bahwa John bermain dengan banyak wanita di bar tetapi ia tak percaya, ia malah menyalahkan aku karena aku mengambil pacarnya. Aku benar-benar berusaha mengelaknya dan ia malah menangis dan menyiram aku dengan air dingin. Di tengah kafetaria.

John melepas tanganku dan pergi begitu saja. Well, aku ga berharap banyak sama cowok yang tipenya 'catch and run' kayak dia. Aku mengambil tasku lalu meminta maaf pada Eli.

"Aku nggak bermaksud untuk mengambil John atau apa. Tapi, dari awal, John memang udah kayak gitu. Dia cuma ngincer uang lu doang, El. Lu harus percaya sama gua." ujarku dengan rambut dan baju yang basah. Aku langsung pergi perlahan dari kafetaria menahan malu yang teramat sangat dan langsung pulang ke rumah.

Aku terus berpikir bagaimana aku akan bertemu dengan Eli besok. Aku benar-benar pusing bagaimana aku akan berkata lagi pada Eli setelah segala hal yang terjadi. Dari awal, seharusnya aku tak memata-matai John.

Esoknya, Eli benar-benar tidak berbicara padaku dan ia terlihat sangat kosong dan suram. Beberapa hari kemudian, ia mendatangi aku dan menampar aku.

"Kemarin John putus denganku! Semua itu karena kamu!!" Ujarnya keras sambil menangis. Wajahnya 
sudah seperti orang gila.

Sejak saat itu, Eli sering bolos kuliah, bahkan ia tak menitip absen. Setiap hari sejak saat itu, aku selalu mengunjungi rumah Eli. Tetapi, tak sekalipun ia membukakan pintu untukku.

Hari ini, 30 Mei, Hari ini Eli berulangtahun dan aku mengunjungi rumahnya membawa kue berukuran 20x20 yang kubeli di harvest. Aku mengetuk pintu rumahnya dan aku menunggu untuk beberapa menit. Saat aku mulai menyerah dan ingi berbalik pulang...

BRAKKKK!!

Kudengar bunyi yang sangat kencang dari dalam rumah Eli. Aku mengetuk pintu dengan kencang dan pintu itu tetap tidak terbuka. Akhirnya aku memutuskan untuk mendobrak pintu itu. Tiga kali aku mendobrak sampai akhirnya pintu itu terbuka juga.

Aku berteriak nama Eli berkali-kali dengan keras. Aku mencarinya ke setiap ruangan. Ruang tamu, dapur di lantai pertama. Akupun naik ke lantai kedua, berharap dapat menemukan Eli dan aku sungguh terkejut saat aku melihat Eli tergeletak di lantai kamarnya dengan tali tambang di lehernya dan kipas angin yang menimpanya.

Aku langsung menelepon 911 karena hanya itu nomor darurat yang aku tau. Aku menangis memberitau bahwa semua ini terjadi. Terjadi.

Beberapa menit kemudian, mobil ambulance datang dan mengangkat tubuh Eli. Aku ikut naik ke dalam ambulance. Aku melihat secarik kertas di meja tulis Eli dan aku ambil sebelum memasuki ambulance. Aku membacanya.




Mungkin jika aku mati, semua akan tetap baik-baik saja. Jika seseorang yang membaca ini, aku ingin memintanya untuk menyampaikan maafku kepada kedua orangtuaku dan Anissa, maafkan aku meninggalkan kalian tanpa memberitahukan apa yang telah terjadi. Hidup ini sudah sangat sulit dan hartapun tidak menjawab segalanya. Ini bukan kesalahan kalian, melainkan aku. aku tidak ingin kalian menangis karena kekonyolan diriku untuk mengambil tindakan ini.
Maaf juga Gaby  (Gabriella Sellie) karena aku sudah menuduhmu mengambil kekasihku. Maaf. Selama ini aku tau 'dia' bukan benar-benar cinta padaku, melainkan harta dan tubuhku. aku sadar kamu selalu mendukung aku dalam situasi apapun. Belakangan, aku sungguh merasa hampir gila. Hartaku tak membantu, Gab. Aku tak bisa tidur di malam hari, aku tak bisa makan dengan normal, otakku sudah kacau. Tak bisa lagi aku hidup.
Aku hanya ingin berkata bahwa kematian ini bukanlah hal yang konyol. Tetapi, aku hanya ingin mati saja, aku merasa hal itu yang benar. Bukan salah siapa-siapa.
Tertanda,
Vannie Elisabeth



Aku duduk terpana melihat surat yang ia tulis itu. Aku memandangi wajah Eli yang sudah putih pucat dan setelah sampai di rumah sakit, troli yang membawa tubuhnya itu  didorong keluar mobil ambulance menuju ke UGD. Aku tak boleh masuk. Aku tak tau lagi apa yang harus aku lakukan atau apa yang harus aku katakan. Aku dengan segera menelepon kedua orangtua Eli sebegitu aku sadar bahwa mereka patut tau apa yang terjadi.

Sebelum orangtua Eli datang, beberapa menit kemudian, aku melihat dokter keluar dari ruang UGD dan mengarah kepadaku. Aku berdiri seketika dan dokter bertanya apakah aku adalah keluarganya. Aku berkata bahwa aku sudah menelepon keluarganya dan keluarganya akan datang beberapa jam lagi karena mereka tinggal cukup jauh.

Aku menangis karena aku tau, Eli pasti sudah meninggal. Aku berkata pada dokter untuk mengatakan padaku apa yang sesungguhnya terjadi.

"Vannie Elisabeth divonis bunuh diri pada sekitar 3 jam yang lalu. Mati karena gantung diri dan beberapa menit lalu mayatnya yang masih basah tertimpa kipas angin yang tak mampu menahan berat tubuhnya. Hampir organ bagian dalamnya tertekan berat kipas itu sampai hampir hancur." Jelas dokter padaku.

Aku lebih-lebih terkejut setelah mendengar kata-kata dokter selanjutnya. Hal tersebut rasanya menjelaskan semua yang Eli lalui.

“Sedangkan bayi berumur 3 bulan yang berada di kandungannya sebelumnya hancur akibat berat kipas angin yang menimpa perut Vannie Elisabeth. Saya harap Anda merelakan kepergian Vannie.” Ujarnya dengan tegas.

Aku sadar, aku bertengkat dengan Eli 4 bulan yang lalu dan mungkin saja, mungkin, ia bersedih karena ia hamil. Memang belakangan ia jarang masuk kuliah dan ia bertambah suram. Mengapa aku tak menyadari seseegera mungkin? Aku merenung semalaman menunggu kedua orangtua Eli datang.

Beberapa jam kemudian, orangtua Eli datang dan bertanya kepadaku apa yang terjadi. Aku bercerita semampuku dan memberitau mereka tentang surat. Mereka menangis mengetahui anak pertamanya telah meninggal dunia.

***

Akhirnya, saat ini, detik ini juga, ia dimakamkan. Malam ini begitu gelap dan duka, keluarga Eli duduk di baris paling depan. Ibunya mengisakan tangis sedih dan Anissa, adiknya, meneteskan air mata tanpa berkata apapun. Semoga ia diterima di sisi Tuhan Yang Mahaesa.

"Amin." Aku mendengar suara familiar dari arah kananku. Kulihat John yang sedang berdiri di sebelahku di pemakaman sahabatku yang telah ia permainkan. Aku berteriak padanya:

"INI SEMUA SALAHMU!!! MENGAPA KAU MASIH DATANG, DASAR MANUSIA TAK TAU DIRI!!!" Ujarku keras sambil mendorongnya.

Aku ditahan oleh beberapa orang disana. John hanya berkata bahwa ia hanya teman Eli dan ia tak tau apa yang Eli lewati sampai ia bunuh diri. Tentu semua orang percaya. Aku hanya berteriak dengan sangat keras.

"JAHANAM KAU !!!!!!!"

 
The End

No comments:

Post a Comment