Thursday, August 29, 2013

Partenza Dell'amato



Partenza Dell'amato
(Kepergian sang Kekasih)



Tik.. Tok.. Tik.. Tok..
Sudah tepat 35 menit tepat aku berdiri di depan stasiun menunggu kekasihku datang, tetapi ia tak kurun tiba di sini. Aku melihat ke arah handphoneku. Jam sudah menunjukan pukul 19.12, ia sudah telat lebih dari setengah jam. Aku mulai jengkel dan meneleponnya berkali-kali tetapi tak satupun diangkat olehnya. Beberapa saat kemudian, handphoneku berdering tanda ada pesan masuk. Aku menyalakan layar handphoneku dan melihat pesan:

From: Jason_Tanaichi@ymail.com
To: Ru_Hana@ymail.com
Ruu, kita ganti tempat ketemuan ya? Temui aku di stasiun Tokyo 40 menit lagi. Maaf.

Duh, dia gak ada kabar selama setengah jam lalu tiba-tiba memindahkan tempat kami janjian. Rasa jengkel menyeruak dari dalam diriku. Rasanya mungkin saja nanti aku memarahinya. Aku melangkah menuju papan jadwal keberangkatan kereta. Untung saja, aku belum terlambat untuk membeli satu karcis menuju ke Stasiun Tokyo.

Aku segera menuju mesin pembelian karcis yang terletak di pinggir stasiun. Aku memasukan 1 koin 500 yen dan mengambil kembalian 50 yen karena harga karcis dari Saitama menuju ke Tokyo adalah 450 Yen. Setelah itu, aku mengambil karcis dan masuk ke dalam stasiun. Masih ada sekitar 10 menit lagi sebelum keberangkatan kereta.

Aku membeli sebotol air mineral dan menuju peron kereta. Aku duduk di gerbang ke empat dan menunggu kereta untuk berangkat. Aku mengambil route 3 - Saikyo (Saitama-Tokyo) yang berangkat pada pukul 19.29. Akhirnya, pintu kereta tertutup dan kereta mulai berangkat. Sulit dibayangkan, kereta Saikyo malam hari ini tidak begitu ramai.

Jam 19.29, aku berangkat dari stasiun Saitama-Shintoshin. Aku melewati JR Takasaki Line selama 24 menit dan kereta berhenti selama 3 menit di Ueno. Pada pukul 19.59 kereta mulai berjalan dan melewati JR Yamanote Line untuk segera menuju ke Stasiun Tokyo. Perjalanan selama 35 menit dan berjarak 28,9 km ini bukan apa-apa karena aku akan segera bertemu Jason.

Aku dan Jason sudah menjalin hubungan lebih dari 6 tahun. Kami berdua saling mencintai dan sebenarnya berencana menikah setahun lalu begitu ia menyelesaikan gelar S1nya tetapi ibunya menentang dan mewajibkan ia mengambil S2 di Tokyo. Aku menjalani long distance relationship dan itu cukup sulit karena tak setiap minggu kami bisa bertemu. Seperti hari ini, hari ini adalah hari pertama kami bertemu lagi selama 2 bulan terakhir.

Aku duduk di tempat duduk stasiun barisan paling depan, berharap Jason akan menemukanku langsung saat dia tiba di sini. Seharusnya, Jason datang kurang lebih 5 menit lagi maka aku duduk dan menunggunya. Orang-orang berlalu lalang melewati aku, tetapi tak satupun dari mereka adalah Jason. 1 menit, 2 menit, 3 menit, 4 menit, dan 5 menit juga berlalu.

Aku kecewa kepadanya mengapa ia tidak menepati janjinya. Rasanya marah dan kecewa bercampur aduk. Aku mengirimkan beberapa pesan singkat yang berisi bahwa aku sudah menunggunya di stasiun. Biasanya ia tak pernah telat. Ini adalah pertama kalinya ia telat selama 6 tahun kami pacaran. Aku sudah mulai kehabisan kesabaran menunggunya tetapi aku ingin bertemu dengannya. Dengan padatnya jadwal kuliah Jason, sangat jarang kami bisa bertemu. Maka, aku memutuskan untuk menunggunya lebih lama lagi.

Aku duduk di tempat yang sama selama 30 menit tetapi Jason tak kunjung datang. Kereta terakhir menuju Tokyo telah tiba dan Jason belum kunjung datang. Aku memutuskan untuk bermalam di Tokyo dan mengunjungi apartement Jason keesokan paginya.

Saat aku berdiri dan hendak pergi meninggalkan rasa kecewaku di Stasiun Tokyo. Tanpa ada penjaga stasiun, kereta datang dan berhenti di stasiun ini. Aku berlari menuju kereta itu dan berhenti di depan salah satu gerbong terdekat. Aku berharap Jason mungkin turun dari kereta yang satu ini. Tetapi, hal itu tidak terjadi. Tak ada satupun penumpang yang turun dan hanya beberapa orang yang naik. Aku hanya berdiri di samping kereta dan membiarkan kereta itu pergi tepat pukul 00.00 saat jam stasiun berdentang 6 kali.

Gerbong-gerbong kereta itu lewat di depan mataku. Aku melihat di salah satu gerbong itu. Jason. Ia menempelkan tangannya ke kaca dan bertatapan mata denganku. Tanpa bisa berkata apa-apa, aku termenung dan terdiam di samping rel kereta sampai suatu petugas stasiun menegurku dan memperingatkan aku bahwa stasiun akan segera tutup.

Aku terus-terusan terpikir tentang Jason yang tidak turun dari gerbong kereta. Apakah mungkin dia tertidur dalam kereta dan saat dia terbangun gerbong kereta sudah tutup? Aku tak memikirkannya lebih lama lagi. Aku mengiriminya pesan bahwa besok aku akan pergi ke apartementnya tetapi ia tak membalas.

Keesokan pagi, aku bangun dari tidurku dan memeriksa handphoneku. Masih belum ada kabar dari Jason. Aku memutuskan untuk mengunjungi apartemennya tetapi apartemennya terkunci dan sepertinya kosong yang menandakan ia sedang tak ada di sana. Akhirnya, aku memutuskan untuk pulang dengan menggunakan kereta lagi.

Sesampainya di rumah, Jason masih belum memberiku kabar apapun. Sebenarnya apa maksud dari semua ini? Ia menyuruhku menunggunya di Stasiun Tokyo dan saat aku menyadari bahwa ia di sana, ia meninggalkan aku. Sebenarnya mungkin saja ia berada di rumah orangtuanya, tetapi aku tak mempunyai keberanian untuk pergi kesana berhubung orangtuanya tidak merestui hubungan kami sebelum Jason lulus dari perkuliahan jurusan Tekniknya sampai tahap S2 yang berarti 2 semester lagi. Akhirnya, aku memutuskan untuk menunggu kabar darinya.


***
Sudah dua hari, Jason sama sekali menghiraukan aku. aku berpikir tentang apa yang mungkin terjadi dan siang ini setelah pulang perkuliahan aku akan mengunjungi rumah orangtua Jason.
Hanya sekitar 2 blok dari tempat perkuliahanku, aku menemukan rumah orangtua Jason. Dengan ragu-ragu, aku menekan bel rumahnya. Beberapa saat kemudian, Kakak perempuan dari Jason, Juliana, keluar dan mengundang aku untuk masuk ke dalam. Kak Juliana mendukung 100% hubunganku dengan Jason dari pertama kali kami bertemu. Kami mempunyai hobby yang sama, bahkan ia sudah menganggapku sebagai adiknya. Kak Juliana memanggil ibunya dan menyugguhkan aku secangkir teh hangat. Ibunya duduk di sebelah Kak Juliana dan aku segera membuka pembicaraan:

“Jadi, aku kesini karena aku ingin bertanya tentang Jason. Sudah 2 hari ia tidak membalas pesan maupun teleponku. Apakah ia kesini?”

Setelah aku membuka pembicaraan, suasana menjadi hening dan canggung. Tak ada salah satu dari mereka yang menghiraukan ataupun melihat aku. Setelah beberapa saat, Kak Juliana membuka pembicaraan lagi.

“Bukannya kami tidak ingin memberitahumu, Hana. Tetapi, kami menerima kabar bahwa Jason meninggal karena kecelakaan 2 hari yang lalu. Malam ini, akan ada semayam Jason, kami berharap kamu akan datang.”

Mendengar berita itu, aku terkaget dan air mataku langsung berlinang. Aku tak tau harus berkata apa-apa lagi. Kak Juliana memberiku alamat rumah duka yang akan kuhadiri malam nanti dan aku segera pergi meninggalkan rumah itu.  Aku menangis sendu di kamar tidurku. Aku tak pernah membayangkan bahwa ia akan meninggalkan aku. Ia selalu ada untukku selama ini.

Malam harinya di rumah duka, rasanya semua pandanganku terasa gelap dan sendu. Pemakaman Jason adalah pemakaman tradisional Jepang, Soushiki. Walaupun keluarganya adalah keluarganya campuran barat, mereka tetap mempertahankan budaya Jepang. Setiap tamu yang datang membawa uang duka yang dimasukkan dalam amplop putih berdekorasi pita warna hitam dan perak dan diberikan kepada ibu Jason.

Kak Juliana datang dan duduk di sebelahku. Ia menghiburku dan bertanya apakah aku ingin mengetahui tentang kejadian kecelakaan Jason dan aku mengangguk. Aku tersentak kaget dan air mataku berhenti seketika setelah mendengar cerita Kak Juliana.

“Siang 2 hari yang lalu, Jason mengalami tabrakan di jalan dekat Stasiun Tokyo. Siang itu, pihak rumah sakit menghubungi rumah kami dan aku serta ibu langsung menuju ke rumah sakit. Jason disana tergeletak lesu di atas ranjang rumah sakit dan ia berkata padaku untuk tidak memberitahumu tentang kecelakaan ini karena ia tak mau membuatmu sedih. Ia meninggal pukul 15.41 di Tokyo.” Ujar Kak Juliana menyelesaikan ceritanya dengan menahan tangis di wajahnya.

Setelah itu, upacara pemakaman Jason dimulai. Soushiki dimulai dengan upacara matsugo no mizu, pembasahan bibir Jason menggunakan air setelah jenazah dimasukkan dalam peti mati. Selanjutnya proses kamidana fuji, jenazah Jason dimasukkan ke dalam ruangan tertutup kertas putih, yang dipercaya untuk mencegah arwah tidak suci masuk ke dalam.

Mereka memakaikan Jason setelan jas bewarna hitam yang sangat rapi. Mereka membaringkan jenazah Jason didalam peti mati berisi es kering, kimono putih, sendal, 6 keping koin yang dipercaya akan digunakannya untuk melintasi 3 neraka. Setelah itu, pendeta Budha memulai upacara dengan membaca kitab sutra untuk mendoakan Jason dan keluarganya bergantian mendoakan Jason dengan memegang dupa yang kemudian ditanamkan pada kendi kecil di atas meja altar. Upacara berakhir setelah pendeta selesai membaca kitab. Aku dan para tamu lainnya yang pulang diberikan kenang-kenangan, sedangkan Kak Juliana dan ibunya menginap di ruangan yang sama dengan peti jenazah.

Malam ini, aku tak bisa tidur mengingat apa yang Kak Juliana ceritakan. Jika Jason meninggal sore pada sekitar pukul 3, bagaimana aku masih menerima pesan singkat darinya pada sekitar pukul 8. Bagaimana juga tentang aku yang melihat Jason menaiki gerbong kereta itu. Aku memikirkan hal itu semalaman sampai aku tertidur lelap.

Esoknya, aku mengikuti upacara pemakaman Jason. Upacara pemakaman tidak terlalu berbeda jauh dengan upacara semayam, hanya saja hari ini pendeta Budha menyanyikan kitab sutra. Setelah itu almarhum akan diberikan nama Budha baru yang disebut dengan kaimyo.

Setelah itu, aku diajak oleh Kak Juliana untuk mengikuti upacara kremasi, yang seharusnya hanya dihadiri oleh keluarga. Ia mengerti betapa aku menyayangi Jason setelah apa yang telah kami lewati bersama 6 tahun terakhir. Aku mengikuti Kak Juliana dan ibu menuju tempat Jason akan di kremasi. Acara itu berlangsung selama dua jam.

Malam itu, ibunya mengundang aku makan malam di rumahnya dan aku bersedia. Ia bercerita bagaimana ia tidak menyukaiku karena aku selalu bersama Jason. Aku meminta maaf atas semua perlakuanku yang membuatnya jengkel. Ibunya adalah orang yang sangat baik tetapi memang ia sangat mementingkan edukasi. Seusai makan, aku berpamit pulang.

Sesampainya di rumah, jam handphoneku sudah menunjukan pukul 00.02 dan aku sudah mulai mengantuk. Aku memasuki kamarku dan melihat setangkai bunga mawar di sebelah jam wekerku yang berhenti pada pukul 00.00 tepat. Aku bertanya kepada mama apakah ada seseorang yang menaruh mawar di kamarku tetapi mama tak mengaku. Adikku dan kakak laki-lakiku sudah tertidur pulas maka aku memutuskan untuk meletakan mawar itu di dalam vas bunga kaca milikku. Aku menuangkan sedikit air ke dalam vas itu dan meletakannya di meja kecil di sebelah kasurku. Aku segera menggosok gigiku dan pergi tidur.

Aku mulai tertidur lelap memasuki alam mimpiku saat tiba-tiba suara pecahan kaca masuk menusuk telingaku. PRANGG !!! Aku menerka-nerka mungkin itu adalah suara vas bunga yang jatuh. Dalam pikiranku, aku ingin terbangun dan membersihkan serpihan-serpihan kaca yang pasti berserakan di lantai kamar tetapi aku tak bisa. Aku tak kuasa membuka mataku.

Aku semakin tenang dan semakin tenang sampai tiba-tiba guncangan membangunkan aku. begitu aku membuka mataku, aku melihat langit-langit yang sangat asing. Aku tidak berada di dalam kamarku melainkan di dalam sebuah kereta. Aku berusaha berdiri dan menyeimbangkan tubuhku. Ini hanya mimpi, ujarku dalam hati.

Aku berjalan dari gerbong pertama sampai ke gerbong yang paling akhir. Kereta ini disesakan oleh suara hening dan tenang tetapi mencekam. Aku berjalan dari gerbong pertama menuju gerbong kedua, ketiga, dan keempat. Disana aku melihat beberapa manula yang sedang tertidur dan hanya duduk. Mereka terlihat sangat pucat dan beberapa dari mereka melihatku dengan tatapan tajam. Aku merasa agak ketakutan disini.

 Aku berjalan menuju ke gerbong ke lima dan aku melihat 3 anak kecil yang berlarian kesana kemari. Salah satu dari mereka jatuh dan menangis sangat keras. Aku menghampiri anak itu dan hendak membantunya berdiri tetapi ia hanya menggeleng dan hanya tergeletak di tanah.

Aku terus berjalan ke gerbong 6 dan melihat beberapa orang dewasa yang juga terlihat pucat. Beberapa dari mereka melihat ke arahku dengan tatapan yang aneh. Aku hanya dengan canggung berjalan melewati gerbong itu dan menuju ke gerbong yang terakhir, gerbong 7.

Di gerbong ini, aku melihat beberapa remaja yang sedang berpacaran maupun sendirian. Di ujung gerbong, aku melihatnya. Jason… Pikiran pertamaku adalah ini pasti mimpi dan walau ini mimpi aku sungguh bahagia bisa bertemu dengannya. Aku duduk di sampingnya melihat wajahnya yang agak pucat dan menggenggam tangannya, tangannya yang dingin.

Aku bertanya kepadanya mengapa ia meninggalkan aku sendiri tetapi ia tak menjawab aku. ia tak menghiraukan aku. aku berdiri dan mengajaknya keluar dari kereta ini dan segera pulang karena semua orang merindukannya. Aku tersenyum padanya dan ia menengadah ke arahku lalu berkata:

“… Tidak… Boleh… Pergi” ujarnya terbatas-bata seperti baru belajar berbicara.

Aku duduk kembali di sebelahnya dan bertanya mengapa. Ia kembali diam dan tak menghadap ke arahku. Aku bertanya mengapa ia menyuruhku menunggu di Stasiun Tokyo waktu itu. Dan ia menatapku dengan dingin dan berkata “Maaf.. aku… tinggal… kamu…”

Aku diam mengikuti suasana hening di kereta ini. Tiba-tiba, setelah keheningan yang cukup lama. Jason membuka mulutnya. “Kamar… Jurnal… Pergilah…” ujarnya dengan perlahan sambil meneteskan air mata. Aku terpana melihatnya dan memeluk tubuhnya yang dingin itu. Saat itu pula, seorang masinis keluar dari gerbong depan dan memaksaku meninggalkan kereta ini.

Air mata sudah tak bisa lagi keluar dari mataku. Aku berteriak dengan sekuat tenaga “JANGAN PISAHKAN KAMI LAGI!! TOLONG JANGAN PISAHKAN KAMI!!! TOLONG….” Tetapi, hal itu tak dihiraukan. Aku dilempar olehnya keluar dari kereta dan pandanganku gelap.


***

Seseorang mengguncang-guncangkan tubuhku dan aku terbangun.

“Permisi, kak. Stasiun akan mulai beroperasi. Akan sangat berbahaya jika kakak tidur di sini dengan jarak sedekat ini dengan kereta. Maka, diharapkan pindah tempat.” Ujar petugas penjaga stasiun.

Aku terbangun dengan bunga mawar merah di tanganku. Aku tersadar bahwa aku berada di Stasiun Tokyo sehingga aku harus naik kereta kembali ke Saitama untuk segera pulang ke rumah. Satu hal yang aku tahu dari kejadian ini adalah kejadian kemarin bukanlah sekedar mimpi. Aku tak tahu apakah hal itu adalah kenyataan tetapi aku tak akan melupakan hal itu.

Sesampainya di rumah, aku segera mandi dan masuk ke kamarku. Vas bunga yang kemarin kudengar pecah ternyata tidak pecah. Tetapi, bunga di dalam vas hilang dan kemungkinan besar bahwa bunga mawar yang kupegang sekarang adalah bunga mawar yang sama dengan bunga yang ada di vas. Aku menaruh bunga itu kembali ke vas.

Siang harinya, aku meminta izin kepada ibu Jason untuk mencari suatu jurnal di kamar Jason. Tetapi, aku tidak menemukannya. Aku yakin Jason berkata hal itu kemarin di kereta misterius itu. Lalu, ibunya bertanya padaku mengapa aku mencari jurnal itu. Aku tak berkata banyak, aku hanya berkata bahwa hal itu adalah hal yang penting bagi Jason.

Ibunya bercerita bahwa hari ini barang-barang Jason dari apartemennya di Tokyo akan dikirim hari ini. Aku menunggu kiriman itu datang dan mencari jurnal itu. Aku membuka satu box yang berisi buku-buku. Aku memeriksa satu per satu buku. Lalu, aku menemukan satu buku yang berbeda daripada yang lain.

Buku yang bersampul bahan kulit bewarna hitam dihiasi garis melengkung bewarna emas. Saat aku membuka halaman pertama, dua lembar kertas jatuh dan aku melihat bahwa kertas itu adalah foto diriku dan fotoku berdua dengannya beberapa bulan yang lalu. Aku ingat saat itu aku berkata bahwa aku sangat jelek di foto ini tetapi ia berkata bahwa ia tak pernah melihat wanita yang secantik diriku sebelumnya.

Aku membaca isi jurnal itu. Aku sungguh tersentuh dengan apa yang ia tulis di buku tersebut. Semua perjalanan cintanya denganku sejak pertama kali kami bertemu. Pertama kali ia menggenggam tanganku, pertama kali ia memelukku, saat-saat bahagia kami, saat-saat dimana kami menopang satu sama lain.

Aku bernostalgia tentang bagaimana pertama kali bertemu di jalan saat aku berumur 17 tahun kelas SMA 3. Aku menabraknya sampai aku jatuh dan bukuku berserakan. Ia mengambil jurusan teknik di universitas swasta di Saitama. Ia mengajariku pelajaran-pelajaran yang sulit kumengerti. Kami melengkapi satu sama lain di setiap langkah hubungan kami. Ia menyatakan perasaannya saat aku lulus SMA dan aku mengambil universitas yang sama dengannya.

Seusai ia mengambil gelar S1, ia memperkenalkan aku kepada ibunya tetapi ibunya memaksanya mengikuti perkuliahan S2 di Tokyo jika ia ingin bersama denganku. Kami melewati masa yang mudah sampai masa yang sulit.


“Cintaku padanya tak bersyarat dan itu adalah cinta yang murni.”

Di jurnalnya tertulis tanggal dan kemana kami pergi berkencan setiap kami pergi. Air mataku mengalir jatuh dari mata menuju pipiku. Setiap kata-kata yang ia tulis di buku itu adalah ketulusan.
Ia sungguh-sungguh mencintai aku dengan segenap hati dan jiwanya. Buku itu ditulis hampir penuh, hanya tinggal beberapa halaman lagi yang tersisa, dan di halaman akhir ia tulis adalah tanggal 26 Agustus 2013, hari saat ia meninggal karena kecelakaan.


  
22 Agustus 2013, Nervous
6 tahun 2 bulan tepat aku mencintainya.
Hari ini aku pergi ke toko perhiasan untuk membeli satu cincin tunangan hasil kerja kerasku selama 3 tahun terakhir. Aku bahagia karena aku membeli cincin ini karena jerih payahku sendiri.
Aku berharap Ruu akan suka dan gembira dengan cincin yang ku berikan untuknya.
XOXO,
Jason Tanaichi

26 Agustus 2013, Lovely Day
6 tahun 2 bulan 4 hari lamanya aku berpacaran dengan Ruu. Aku akan menyelesaikan kuliahku dalam kurun waktu 1 tahun dan aku akan menjadi suaminya secara resmi. Untuk kedepannya, ia akan mempunyai nama Rukia Tanaichi :)
Hari ini, aku akan melamarnya untuk menjadi pendamping hidupku. Semoga ia juga ingin selamanya berada di sisiku
Love,
Jason Tanaichi



Air mata mengalir deras dari mataku. Ibu Jason masuk ke dalam kamar ini dan memberikan aku sebuah cincin dan menceritakan bahwa cincin ini digenggam oleh Jason saat ia mengalami kecelakaan. Cincin bewarna emas ini terlihat sangat indah di mataku. Di dalam cincin ini terdapat ukiran namanya dan namaku.
Jason and Rukia

***

Tik… Tok… Tik… Tok…
Hidup ini tetap berjalan setiap detik. Detik menjadi menit, menit menjadi jam, jam menjadi hari, dan seterusnya. Dan tanpa kita sadari, tujuh tahun telah berlalu.

Aku tetap tak pernah melupakan Jason Tanaichi, cinta pertamaku.  Namun, aku tau, ia ingin yang terbaik bagiku. Ia tak akan membiarkan aku terus-terusan bersedih dan mengurung diri seperti yang aku lakukan 7 tahun yang lalu saat ia meninggalkan aku.

Sekarang, aku sudah membina keluarga yang bahagia berkat dirinya. Aku memiliki suami yang pengertian dan seorang anak laki-laki yang sudah berusia 2 tahun. Suamiku bernama Samuel Anderson dan ia mengetahui segala tentang Jason Tanaichi, ia mengerti dan selalu menemaniku mengunjungi pemakaman Jason Tanaichi setiap 6 bulan. Anakku, seorang laki-laki, kunamakan Jason Anderson, yang kuambil dari nama cinta pertamaku. Jason.

Setiap aku duduk di meja kerjaku, aku terinspirasi untuk membuat semua tulisanku menjadi novel maupun cerpen. Sebuah laptop yang terpampang di tengah meja, sebuah vas bunga dari 7 tahun yang lalu, jam weker dari 7 tahun yang lalu yang masih berhenti di pukul 00.00, dan jurnal dari Jason, serta cincin yang tertumpuk antara cincin 7 tahun lalu dan cincin penikahanku.

***

You are my one and only first true love and inspiration.
Thank You, Jason Tanaichi.

--- The End ---

No comments:

Post a Comment