Partenza Dell'amato
(Kepergian sang Kekasih)
Tik.. Tok.. Tik.. Tok..
Sudah tepat 35 menit tepat aku
berdiri di depan stasiun menunggu kekasihku datang, tetapi ia tak kurun tiba di
sini. Aku melihat ke arah handphoneku. Jam sudah menunjukan pukul 19.12, ia
sudah telat lebih dari setengah jam. Aku mulai jengkel dan meneleponnya
berkali-kali tetapi tak satupun diangkat olehnya. Beberapa saat kemudian,
handphoneku berdering tanda ada pesan masuk. Aku menyalakan layar handphoneku
dan melihat pesan:
From:
Jason_Tanaichi@ymail.com
To:
Ru_Hana@ymail.com
Ruu,
kita ganti tempat ketemuan ya? Temui aku di stasiun Tokyo 40 menit lagi. Maaf.
Duh, dia gak ada kabar selama setengah jam lalu tiba-tiba memindahkan
tempat kami janjian. Rasa jengkel menyeruak dari dalam diriku. Rasanya
mungkin saja nanti aku memarahinya. Aku melangkah menuju papan jadwal
keberangkatan kereta. Untung saja, aku belum terlambat untuk membeli satu
karcis menuju ke Stasiun Tokyo.
Aku segera menuju mesin pembelian
karcis yang terletak di pinggir stasiun. Aku memasukan 1 koin 500 yen dan
mengambil kembalian 50 yen karena harga karcis dari Saitama menuju ke Tokyo adalah
450 Yen. Setelah itu, aku mengambil karcis dan masuk ke dalam stasiun. Masih
ada sekitar 10 menit lagi sebelum keberangkatan kereta.
Aku membeli sebotol air mineral
dan menuju peron kereta. Aku duduk di gerbang ke empat dan menunggu kereta
untuk berangkat. Aku mengambil route 3 - Saikyo (Saitama-Tokyo) yang berangkat pada
pukul 19.29. Akhirnya, pintu kereta tertutup dan kereta mulai berangkat. Sulit
dibayangkan, kereta Saikyo malam hari ini tidak begitu ramai.
Jam 19.29, aku berangkat dari
stasiun Saitama-Shintoshin. Aku melewati JR Takasaki Line selama 24 menit dan
kereta berhenti selama 3 menit di Ueno. Pada pukul 19.59 kereta mulai berjalan
dan melewati JR Yamanote Line untuk segera menuju ke Stasiun Tokyo. Perjalanan
selama 35 menit dan berjarak 28,9 km ini bukan apa-apa karena aku akan segera
bertemu Jason.
Aku dan Jason sudah menjalin
hubungan lebih dari 6 tahun. Kami berdua saling mencintai dan sebenarnya
berencana menikah setahun lalu begitu ia menyelesaikan gelar S1nya tetapi
ibunya menentang dan mewajibkan ia mengambil S2 di Tokyo. Aku menjalani long
distance relationship dan itu cukup sulit karena tak setiap minggu kami bisa
bertemu. Seperti hari ini, hari ini adalah hari pertama kami bertemu lagi
selama 2 bulan terakhir.
Aku duduk di tempat duduk stasiun
barisan paling depan, berharap Jason akan menemukanku langsung saat dia tiba di
sini. Seharusnya, Jason datang kurang lebih 5 menit lagi maka aku duduk dan
menunggunya. Orang-orang berlalu lalang melewati aku, tetapi tak satupun dari
mereka adalah Jason. 1 menit, 2 menit, 3 menit, 4 menit, dan 5 menit juga
berlalu.
Aku kecewa kepadanya mengapa ia
tidak menepati janjinya. Rasanya marah dan kecewa bercampur aduk. Aku
mengirimkan beberapa pesan singkat yang berisi bahwa aku sudah menunggunya di
stasiun. Biasanya ia tak pernah telat. Ini adalah pertama kalinya ia telat
selama 6 tahun kami pacaran. Aku sudah mulai kehabisan kesabaran menunggunya tetapi
aku ingin bertemu dengannya. Dengan padatnya jadwal kuliah Jason, sangat jarang
kami bisa bertemu. Maka, aku memutuskan untuk menunggunya lebih lama lagi.
Aku duduk di tempat yang sama
selama 30 menit tetapi Jason tak kunjung datang. Kereta terakhir menuju Tokyo
telah tiba dan Jason belum kunjung datang. Aku memutuskan untuk bermalam di
Tokyo dan mengunjungi apartement Jason keesokan paginya.
Saat aku berdiri dan hendak pergi
meninggalkan rasa kecewaku di Stasiun Tokyo. Tanpa ada penjaga stasiun, kereta
datang dan berhenti di stasiun ini. Aku berlari menuju kereta itu dan berhenti
di depan salah satu gerbong terdekat. Aku berharap Jason mungkin turun dari
kereta yang satu ini. Tetapi, hal itu tidak terjadi. Tak ada satupun penumpang
yang turun dan hanya beberapa orang yang naik. Aku hanya berdiri di samping
kereta dan membiarkan kereta itu pergi tepat pukul 00.00 saat jam stasiun
berdentang 6 kali.
Gerbong-gerbong kereta itu lewat
di depan mataku. Aku melihat di salah satu gerbong itu. Jason. Ia menempelkan
tangannya ke kaca dan bertatapan mata denganku. Tanpa bisa berkata apa-apa, aku
termenung dan terdiam di samping rel kereta sampai suatu petugas stasiun
menegurku dan memperingatkan aku bahwa stasiun akan segera tutup.
Aku terus-terusan terpikir
tentang Jason yang tidak turun dari gerbong kereta. Apakah mungkin dia tertidur
dalam kereta dan saat dia terbangun gerbong kereta sudah tutup? Aku tak
memikirkannya lebih lama lagi. Aku mengiriminya pesan bahwa besok aku akan
pergi ke apartementnya tetapi ia tak membalas.
Keesokan pagi, aku bangun dari
tidurku dan memeriksa handphoneku. Masih belum ada kabar dari Jason. Aku
memutuskan untuk mengunjungi apartemennya tetapi apartemennya terkunci dan
sepertinya kosong yang menandakan ia sedang tak ada di sana. Akhirnya, aku
memutuskan untuk pulang dengan menggunakan kereta lagi.
Sesampainya di rumah, Jason masih
belum memberiku kabar apapun. Sebenarnya apa maksud dari semua ini? Ia
menyuruhku menunggunya di Stasiun Tokyo dan saat aku menyadari bahwa ia di
sana, ia meninggalkan aku. Sebenarnya mungkin saja ia berada di rumah
orangtuanya, tetapi aku tak mempunyai keberanian untuk pergi kesana berhubung
orangtuanya tidak merestui hubungan kami sebelum Jason lulus dari perkuliahan
jurusan Tekniknya sampai tahap S2 yang berarti 2 semester lagi. Akhirnya, aku
memutuskan untuk menunggu kabar darinya.
***
Sudah dua hari, Jason sama sekali
menghiraukan aku. aku berpikir tentang apa yang mungkin terjadi dan siang ini
setelah pulang perkuliahan aku akan mengunjungi rumah orangtua Jason.
Hanya sekitar 2 blok dari tempat
perkuliahanku, aku menemukan rumah orangtua Jason. Dengan ragu-ragu, aku
menekan bel rumahnya. Beberapa saat kemudian, Kakak perempuan dari Jason,
Juliana, keluar dan mengundang aku untuk masuk ke dalam. Kak Juliana mendukung
100% hubunganku dengan Jason dari pertama kali kami bertemu. Kami mempunyai
hobby yang sama, bahkan ia sudah menganggapku sebagai adiknya. Kak Juliana
memanggil ibunya dan menyugguhkan aku secangkir teh hangat. Ibunya duduk di
sebelah Kak Juliana dan aku segera membuka pembicaraan:
“Jadi, aku kesini karena aku
ingin bertanya tentang Jason. Sudah 2 hari ia tidak membalas pesan maupun
teleponku. Apakah ia kesini?”
Setelah aku membuka pembicaraan,
suasana menjadi hening dan canggung. Tak ada salah satu dari mereka yang
menghiraukan ataupun melihat aku. Setelah beberapa saat, Kak Juliana membuka
pembicaraan lagi.
“Bukannya kami tidak ingin
memberitahumu, Hana. Tetapi, kami menerima kabar bahwa Jason meninggal karena
kecelakaan 2 hari yang lalu. Malam ini, akan ada semayam Jason, kami berharap
kamu akan datang.”
Mendengar berita itu, aku
terkaget dan air mataku langsung berlinang. Aku tak tau harus berkata apa-apa
lagi. Kak Juliana memberiku alamat rumah duka yang akan kuhadiri malam nanti
dan aku segera pergi meninggalkan rumah itu.
Aku menangis sendu di kamar tidurku. Aku tak pernah membayangkan bahwa
ia akan meninggalkan aku. Ia selalu ada untukku selama ini.
Malam harinya di rumah duka,
rasanya semua pandanganku terasa gelap dan sendu. Pemakaman Jason adalah
pemakaman tradisional Jepang, Soushiki.
Walaupun keluarganya adalah keluarganya campuran barat, mereka tetap
mempertahankan budaya Jepang. Setiap tamu yang datang membawa uang duka yang
dimasukkan dalam amplop putih berdekorasi pita warna hitam dan perak dan
diberikan kepada ibu Jason.
Kak Juliana datang dan duduk di
sebelahku. Ia menghiburku dan bertanya apakah aku ingin mengetahui tentang
kejadian kecelakaan Jason dan aku mengangguk. Aku tersentak kaget dan air
mataku berhenti seketika setelah mendengar cerita Kak Juliana.
“Siang 2 hari yang lalu, Jason
mengalami tabrakan di jalan dekat Stasiun Tokyo. Siang itu, pihak rumah sakit
menghubungi rumah kami dan aku serta ibu langsung menuju ke rumah sakit. Jason
disana tergeletak lesu di atas ranjang rumah sakit dan ia berkata padaku untuk
tidak memberitahumu tentang kecelakaan ini karena ia tak mau membuatmu sedih.
Ia meninggal pukul 15.41 di Tokyo.” Ujar Kak Juliana menyelesaikan ceritanya
dengan menahan tangis di wajahnya.
Setelah itu, upacara pemakaman
Jason dimulai. Soushiki dimulai
dengan upacara matsugo no mizu, pembasahan bibir Jason menggunakan air setelah
jenazah dimasukkan dalam peti mati. Selanjutnya proses kamidana fuji, jenazah Jason dimasukkan ke dalam ruangan tertutup
kertas putih, yang dipercaya untuk mencegah arwah tidak suci masuk ke dalam.
Mereka memakaikan Jason setelan
jas bewarna hitam yang sangat rapi. Mereka membaringkan jenazah Jason didalam
peti mati berisi es kering, kimono putih, sendal, 6 keping koin yang dipercaya
akan digunakannya untuk melintasi 3 neraka. Setelah itu, pendeta Budha memulai
upacara dengan membaca kitab sutra untuk mendoakan Jason dan keluarganya
bergantian mendoakan Jason dengan memegang dupa yang kemudian ditanamkan pada
kendi kecil di atas meja altar. Upacara berakhir setelah pendeta selesai
membaca kitab. Aku dan para tamu lainnya yang pulang diberikan kenang-kenangan,
sedangkan Kak Juliana dan ibunya menginap di ruangan yang sama dengan peti
jenazah.
Malam ini, aku tak bisa tidur
mengingat apa yang Kak Juliana ceritakan. Jika Jason meninggal sore pada
sekitar pukul 3, bagaimana aku masih menerima pesan singkat darinya pada
sekitar pukul 8. Bagaimana juga tentang aku yang melihat Jason menaiki gerbong
kereta itu. Aku memikirkan hal itu semalaman sampai aku tertidur lelap.
Esoknya, aku mengikuti upacara
pemakaman Jason. Upacara pemakaman tidak terlalu berbeda jauh dengan upacara
semayam, hanya saja hari ini pendeta Budha menyanyikan kitab sutra. Setelah itu
almarhum akan diberikan nama Budha baru yang disebut dengan kaimyo.
Setelah itu, aku diajak oleh Kak
Juliana untuk mengikuti upacara kremasi, yang seharusnya hanya dihadiri oleh
keluarga. Ia mengerti betapa aku menyayangi Jason setelah apa yang telah kami
lewati bersama 6 tahun terakhir. Aku mengikuti Kak Juliana dan ibu menuju tempat
Jason akan di kremasi. Acara itu berlangsung selama dua jam.
Malam itu, ibunya mengundang aku
makan malam di rumahnya dan aku bersedia. Ia bercerita bagaimana ia tidak
menyukaiku karena aku selalu bersama Jason. Aku meminta maaf atas semua
perlakuanku yang membuatnya jengkel. Ibunya adalah orang yang sangat baik
tetapi memang ia sangat mementingkan edukasi. Seusai makan, aku berpamit
pulang.
Sesampainya di rumah, jam
handphoneku sudah menunjukan pukul 00.02 dan aku sudah mulai mengantuk. Aku
memasuki kamarku dan melihat setangkai bunga mawar di sebelah jam wekerku yang
berhenti pada pukul 00.00 tepat. Aku bertanya kepada mama apakah ada seseorang
yang menaruh mawar di kamarku tetapi mama tak mengaku. Adikku dan kakak
laki-lakiku sudah tertidur pulas maka aku memutuskan untuk meletakan mawar itu
di dalam vas bunga kaca milikku. Aku menuangkan sedikit air ke dalam vas itu
dan meletakannya di meja kecil di sebelah kasurku. Aku segera menggosok gigiku
dan pergi tidur.
Aku mulai tertidur lelap memasuki
alam mimpiku saat tiba-tiba suara pecahan kaca masuk menusuk telingaku. PRANGG
!!! Aku menerka-nerka mungkin itu adalah suara vas bunga yang jatuh. Dalam
pikiranku, aku ingin terbangun dan membersihkan serpihan-serpihan kaca yang
pasti berserakan di lantai kamar tetapi aku tak bisa. Aku tak kuasa membuka
mataku.
Aku semakin tenang dan semakin
tenang sampai tiba-tiba guncangan membangunkan aku. begitu aku membuka mataku,
aku melihat langit-langit yang sangat asing. Aku tidak berada di dalam kamarku
melainkan di dalam sebuah kereta. Aku berusaha berdiri dan menyeimbangkan
tubuhku. Ini hanya mimpi, ujarku
dalam hati.
Aku berjalan dari gerbong pertama
sampai ke gerbong yang paling akhir. Kereta ini disesakan oleh suara hening dan
tenang tetapi mencekam. Aku berjalan dari gerbong pertama menuju gerbong kedua,
ketiga, dan keempat. Disana aku melihat beberapa manula yang sedang tertidur
dan hanya duduk. Mereka terlihat sangat pucat dan beberapa dari mereka
melihatku dengan tatapan tajam. Aku merasa agak ketakutan disini.
Aku berjalan menuju ke gerbong ke lima dan aku
melihat 3 anak kecil yang berlarian kesana kemari. Salah satu dari mereka jatuh
dan menangis sangat keras. Aku menghampiri anak itu dan hendak membantunya
berdiri tetapi ia hanya menggeleng dan hanya tergeletak di tanah.
Aku terus berjalan ke gerbong 6
dan melihat beberapa orang dewasa yang juga terlihat pucat. Beberapa dari
mereka melihat ke arahku dengan tatapan yang aneh. Aku hanya dengan canggung
berjalan melewati gerbong itu dan menuju ke gerbong yang terakhir, gerbong 7.
Di gerbong ini, aku melihat
beberapa remaja yang sedang berpacaran maupun sendirian. Di ujung gerbong, aku
melihatnya. Jason… Pikiran pertamaku adalah ini pasti mimpi dan walau ini mimpi
aku sungguh bahagia bisa bertemu dengannya. Aku duduk di sampingnya melihat
wajahnya yang agak pucat dan menggenggam tangannya, tangannya yang dingin.
Aku bertanya kepadanya mengapa ia
meninggalkan aku sendiri tetapi ia tak menjawab aku. ia tak menghiraukan aku.
aku berdiri dan mengajaknya keluar dari kereta ini dan segera pulang karena
semua orang merindukannya. Aku tersenyum padanya dan ia menengadah ke arahku
lalu berkata:
“… Tidak… Boleh… Pergi” ujarnya
terbatas-bata seperti baru belajar berbicara.
Aku duduk kembali di sebelahnya
dan bertanya mengapa. Ia kembali diam dan tak menghadap ke arahku. Aku bertanya
mengapa ia menyuruhku menunggu di Stasiun Tokyo waktu itu. Dan ia menatapku
dengan dingin dan berkata “Maaf.. aku… tinggal… kamu…”
Aku diam mengikuti suasana hening
di kereta ini. Tiba-tiba, setelah keheningan yang cukup lama. Jason membuka
mulutnya. “Kamar… Jurnal… Pergilah…” ujarnya dengan perlahan sambil meneteskan
air mata. Aku terpana melihatnya dan memeluk tubuhnya yang dingin itu. Saat itu
pula, seorang masinis keluar dari gerbong depan dan memaksaku meninggalkan
kereta ini.
Air mata sudah tak bisa lagi
keluar dari mataku. Aku berteriak dengan sekuat tenaga “JANGAN PISAHKAN KAMI
LAGI!! TOLONG JANGAN PISAHKAN KAMI!!! TOLONG….” Tetapi, hal itu tak dihiraukan.
Aku dilempar olehnya keluar dari kereta dan pandanganku gelap.
***
Seseorang mengguncang-guncangkan
tubuhku dan aku terbangun.
“Permisi, kak. Stasiun akan mulai
beroperasi. Akan sangat berbahaya jika kakak tidur di sini dengan jarak sedekat
ini dengan kereta. Maka, diharapkan pindah tempat.” Ujar petugas penjaga
stasiun.
Aku terbangun dengan bunga mawar
merah di tanganku. Aku tersadar bahwa aku berada di Stasiun Tokyo sehingga aku
harus naik kereta kembali ke Saitama untuk segera pulang ke rumah. Satu hal
yang aku tahu dari kejadian ini adalah kejadian kemarin bukanlah sekedar mimpi.
Aku tak tahu apakah hal itu adalah kenyataan tetapi aku tak akan melupakan hal
itu.
Sesampainya di rumah, aku segera
mandi dan masuk ke kamarku. Vas bunga yang kemarin kudengar pecah ternyata
tidak pecah. Tetapi, bunga di dalam vas hilang dan kemungkinan besar bahwa
bunga mawar yang kupegang sekarang adalah bunga mawar yang sama dengan bunga
yang ada di vas. Aku menaruh bunga itu kembali ke vas.
Siang harinya, aku meminta izin
kepada ibu Jason untuk mencari suatu jurnal di kamar Jason. Tetapi, aku tidak
menemukannya. Aku yakin Jason berkata hal itu kemarin di kereta misterius itu.
Lalu, ibunya bertanya padaku mengapa aku mencari jurnal itu. Aku tak berkata
banyak, aku hanya berkata bahwa hal itu adalah hal yang penting bagi Jason.
Ibunya bercerita bahwa hari ini
barang-barang Jason dari apartemennya di Tokyo akan dikirim hari ini. Aku
menunggu kiriman itu datang dan mencari jurnal itu. Aku membuka satu box yang
berisi buku-buku. Aku memeriksa satu per satu buku. Lalu, aku menemukan satu
buku yang berbeda daripada yang lain.
Buku yang bersampul bahan kulit
bewarna hitam dihiasi garis melengkung bewarna emas. Saat aku membuka halaman
pertama, dua lembar kertas jatuh dan aku melihat bahwa kertas itu adalah foto
diriku dan fotoku berdua dengannya beberapa bulan yang lalu. Aku ingat saat itu
aku berkata bahwa aku sangat jelek di foto ini tetapi ia berkata bahwa ia tak
pernah melihat wanita yang secantik diriku sebelumnya.
Aku membaca isi jurnal itu. Aku
sungguh tersentuh dengan apa yang ia tulis di buku tersebut. Semua perjalanan
cintanya denganku sejak pertama kali kami bertemu. Pertama kali ia menggenggam
tanganku, pertama kali ia memelukku, saat-saat bahagia kami, saat-saat dimana
kami menopang satu sama lain.
Aku bernostalgia tentang bagaimana
pertama kali bertemu di jalan saat aku berumur 17 tahun kelas SMA 3. Aku
menabraknya sampai aku jatuh dan bukuku berserakan. Ia mengambil jurusan teknik
di universitas swasta di Saitama. Ia mengajariku pelajaran-pelajaran yang sulit
kumengerti. Kami melengkapi satu sama lain di setiap langkah hubungan kami. Ia
menyatakan perasaannya saat aku lulus SMA dan aku mengambil universitas yang
sama dengannya.
Seusai ia mengambil gelar S1, ia
memperkenalkan aku kepada ibunya tetapi ibunya memaksanya mengikuti perkuliahan
S2 di Tokyo jika ia ingin bersama denganku. Kami melewati masa yang mudah
sampai masa yang sulit.
“Cintaku padanya tak bersyarat dan itu adalah cinta yang murni.”
Di jurnalnya tertulis tanggal dan
kemana kami pergi berkencan setiap kami pergi. Air mataku mengalir jatuh dari
mata menuju pipiku. Setiap kata-kata yang ia tulis di buku itu adalah
ketulusan.
Ia sungguh-sungguh mencintai aku
dengan segenap hati dan jiwanya. Buku itu ditulis hampir penuh, hanya tinggal
beberapa halaman lagi yang tersisa, dan di halaman akhir ia tulis adalah
tanggal 26 Agustus 2013, hari saat ia meninggal karena kecelakaan.
22 Agustus 2013, Nervous
6 tahun
2 bulan tepat aku mencintainya.
Hari
ini aku pergi ke toko perhiasan untuk membeli satu cincin tunangan hasil kerja
kerasku selama 3 tahun terakhir. Aku bahagia karena aku membeli cincin ini
karena jerih payahku sendiri.
Aku
berharap Ruu akan suka dan gembira dengan cincin yang ku berikan untuknya.
XOXO,
Jason Tanaichi
26 Agustus 2013, Lovely Day
6 tahun 2 bulan 4 hari lamanya
aku berpacaran dengan Ruu. Aku akan menyelesaikan kuliahku dalam kurun waktu 1
tahun dan aku akan menjadi suaminya secara resmi. Untuk kedepannya, ia akan
mempunyai nama Rukia Tanaichi :)
Hari ini, aku akan melamarnya untuk
menjadi pendamping hidupku. Semoga ia juga ingin selamanya berada di sisiku
Love,
Jason
Tanaichi
Air mata mengalir deras dari
mataku. Ibu Jason masuk ke dalam kamar ini dan memberikan aku sebuah cincin dan
menceritakan bahwa cincin ini digenggam oleh Jason saat ia mengalami
kecelakaan. Cincin bewarna emas ini terlihat sangat indah di mataku. Di dalam
cincin ini terdapat ukiran namanya dan namaku.
Jason and Rukia
***
Tik… Tok… Tik… Tok…
Hidup ini tetap berjalan setiap
detik. Detik menjadi menit, menit menjadi jam, jam menjadi hari, dan
seterusnya. Dan tanpa kita sadari, tujuh tahun telah berlalu.
Aku tetap tak pernah melupakan
Jason Tanaichi, cinta pertamaku. Namun,
aku tau, ia ingin yang terbaik bagiku. Ia tak akan membiarkan aku terus-terusan
bersedih dan mengurung diri seperti yang aku lakukan 7 tahun yang lalu saat ia
meninggalkan aku.
Sekarang, aku sudah membina
keluarga yang bahagia berkat dirinya. Aku memiliki suami yang pengertian dan
seorang anak laki-laki yang sudah berusia 2 tahun. Suamiku bernama Samuel Anderson
dan ia mengetahui segala tentang Jason Tanaichi, ia mengerti dan selalu
menemaniku mengunjungi pemakaman Jason Tanaichi setiap 6 bulan. Anakku, seorang
laki-laki, kunamakan Jason Anderson, yang kuambil dari nama cinta pertamaku.
Jason.
Setiap aku duduk di meja kerjaku,
aku terinspirasi untuk membuat semua tulisanku menjadi novel maupun cerpen.
Sebuah laptop yang terpampang di tengah meja, sebuah vas bunga dari 7 tahun
yang lalu, jam weker dari 7 tahun yang lalu yang masih berhenti di pukul 00.00,
dan jurnal dari Jason, serta cincin yang tertumpuk antara cincin 7 tahun lalu
dan cincin penikahanku.
***
You are my one and only first true love and inspiration.
Thank You, Jason Tanaichi.
--- The End ---
No comments:
Post a Comment